Kisah Ratnawati Kabakoran, Wisudawan Peraih Cumlaude di STAI Babussalam Sula

Ratnawati Kabakoran, saat didampingi kedua orangtuanya saat pelepasan wisuda STAI Babussalam Sula, Selasa (24/1/2023). (Foto: Hamdi/malutpost.id)

Sanana, malutpost.id -- Ratnawati Kabakoran, anak penjual es batu berhasil membanggakan orangtuanya. Gadis 23 tahun asal Desa Mangon, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, itu menjadi lulusan terbaik di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Selasa (24/1/2023). Mahasiswi S1 jurusan Hukum Islam itu menamatkan sarjana berpredikat cumlaude dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90.

Perjalanannya meraih nilai tertinggi saat pelepasan sarjana penuh liku-liku, salah satunya ekonomi keluarga yang kurang mampu. Sang ayah, M Nur Kabakoran (57) menyambung hidup keluarga dari hasil jual es batu, sedangkan ibunya, Djaleha Upara (56) berdagang sayur masak.

Karena kondisi keluarga yang serba sulit itulah membuat Ratna, panggilan Ratnawati memustuskan istirahat setahun setelah lulus SMA pada 2017. Itu ia lakukan demi sang kakak yang membutuhkan banyak biaya demi keperluan kuliah semester akhir di salah satu kampus di Ternate.

Ratna pun membantu orangtuanya dengan menjual es dan gorengan di salah satu sekolah di Sanana. Dari sini, ia bisa menampal kekurangan keluarga dan menambah biaya masuk kuliah di STAI Sula pada 2018.

"Karena kakak saya juga butuh biaya jadi saya harus mengalah,"kata Ratna kepada malutpost.id.

Saat bercerita dengan wartawan, Ratna tak dapat menyebunyikan rasa harunya. Air matanya terus menetes mengingat perjuangan kedua orangtuanya.

Begitu sang kakak selesai, Ratna akhirnya bisa melanjutkan studi dengan mendaftar di jurusan Hukum Islam STAI Babussalam Sula pada 2018. Di tengah kesibukannya kuliah, ia masih berjualan kripik pisang dan membuat usaha depot BBM.

"Keripik titip di sekolah Madrasah Ibtidaiyah di Desa Falahu sekaligus berjualan minyak bensin. Uangnya saya pakai juga untuk kebutuhan sehari-hari," kata Ratna dengan mata berkaca-kaca.

"Orang tua selalu pesan, tidak punya harta apa-apa asalkan jangan ambil hak orang lain dan tetap rendah hati kepada siapa saja,"kata Ratna yang didampingi orangtuanya.

Ratna juga memberi tips, bahwa untuk bisa berkuliah tidak harus dari keluarga mapan, selama punya niat menuntut ilmu pasti dimudahkan.

Ia lantas mengisahkan perjalanan sang ayah menyekolahkan anak-anaknya. Menurut dia, awalnya sang ayah bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, fisiknya yang tak lagi muda memaksanya berhenti sejak 2015 silam. Agar dapur tetap mengepul dan anaknya terus sekolah, ayahnya banting setir menjual es batu hingga saat ini. Djaleha sang ibu, membantu ekonomi dengan jualan sayur masak. Ibunya, kata Ratna, sebelumnya menjadi tukang sapu jalan di Sanana.

"Saya bersyukur, dengan ekonomi yang terbatas, orang tua saya berhasil sekolahkan kami berempat dari lima saudara hingga ke perguruan tinggi,"tandas Ratna.

Sementara M. Nur Kabakoran tak dapat menyebunyikan kebahagiannya. Menurut dia, putri sulungnya itu tidak hanya berhasil mengenakan toga, namun berhasil membahagiakan mereka di hadapan banyak mahasiswa dan keluarganya saat wisuda. Bagi dia, Ratna membayar perjuangan dia bersama istrinya dengan menyandang prestasi terbaik.

"Saya bangga perjuangan saya dan istri saya siang malam tak kenal lelah berjualan di bayar tuntas oleh putri saya. Alhamdulillah dari ratusan mahasiswa, putri saya bisa lulus dengan nilai terbaik dan menyandang cumlaude. Semoga dengan perjuangan ini putri saya bisa mengamalkan kepada generasi berikutnya,"ucap M. Nur.

Nur bilang, ia tak ingin meratapi nasibnya yang tak sebaik sebaik orang lain. Bagi dia, semua kesulitan yang ia hadapi tak membuatnya berhenti menyekolahkan anak-anak hingga sarjana.

"Alhamdulillah dari 5 anak saya, 4 di antaranya sarjana, soal pekerjaan selanjutnya saya serahkan kepada mereka sesuai  pendidikan mereka,"pungkas dia. (mg-01)

Laporan: Hamdi Embisa

Editor: Ikram Salim

Komentar

Loading...