Tawasul dan Tabarruk: Perjalanan Ziarah Kubur ke Makam Waliyullah

Oleh: Zainab Canu

(Dosen IAIN Ternate)

Bulan Maret tahun 2022 saya melakukan ekspedisi spiritual mengunjungi beberapa makam waliyullah di berbagai daerah di Jawa Timur, perjalanan ini merupakan perjalanan hibernation atau muhasabah diri, bersama sahabat saya Alwiah Alatas.

Di tengah kesibukan yang luar biasa padat kami berdua memutuskan untuk melakukan penyegaran spiritual tujuannya agar karir, hajat dan apapun aktivitas kami selalu mendapatkan keridhoaan Allah SWT serta kelancaran dan kesuksesan dalam menjalankan tugas.

Pukul 16:00 kami tiba di Bandara Juanda Surabaya setelah menempuh beberapa jam penerbangan, kami langsung menuju ke kampung Ampel yang menjadi awal destinasi spiritual kami, setibanya di makam kami langsung membaca tahlil, berwasilah dan bermunajat kepada Allah melampiaskan kepenatan pikiran & perasaan yang dijejali dengan urusan duniawi semoga dengan keberkahannya doa yang dipanjatkan diijabahi oleh Allah SWT.

Tempat yang mengandung aura spiritual ini hampir tidak pernah sepi dari pengunjung, orang yang datang berziarah ke makam Sunan Ampel adalah mereka yang faham betul betapa pentingnya peran Waliyullah dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia khususnya di pulau Jawa.

Sunan Ampel merupakan salah satu waliyullah yang lahir di Champa dan kemudian menjadi seorang pendakwah menyebarkan syariat Islam di Indonesia.

Dengan metode dakwah yang lembut dan penuh toleransi dibarengi dengan kekuatan spiritual, karomah dan kharisma yang dimilikinya menjadikan masyarakat dahulunya memeluk agama hindu, buddha dan keyakinan lokal lainnya bisa berubah keyakinannya menjadi pemeluk agama Islam berkat sentuhan cahaya dakwah beliau.

Memang dalam khazanah dunia Islam, terdapat perbedaan pendapat tentang hukum ziarah kubur dan melakukan tabarruk kepada para Awliya (wali-wali Allah) namun terlepas dari perbedaan pendapat tersebut banyak pendapat ulama' yang membolehkan melakukan ziarah kubur, sebagaimana yang tertera dalam Hadits Nabi:

Kuntu Nahaitukum 'an ziyaaratil qubuuri, fa zuuruuhaa (HR. Muslim)

(Dahulu saya melarang kalian untuk berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah kalian)

Kemudian dalam Kitab Al-Iqna' fi Halli Alfadzi Abi Syuja', Syekh Muhammad bin Muhammad Asy Syarbini menyatakan;

Yundabu Lahunna Ziyaaratu Qabri Rasulillahi Shalallahu 'alaihi wa sallama, Fa innahaa min a'dzhomil Qurubaati, wa yanbaghi an yulhaqa bi dzalika baqiyyatul anbiya wa ash-shalihiin

(Disunnahkan bagi perempuan menziarahi makam Rasulullah SAW, karena itu merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan sepatutnya, makam-makam para nabi dan orang shalih (para wali) disamakan (hukumya) dengan makam Rasulullah SAW)

Kemudian Syekh Zakariya Al-Anshari dalam Asnal Mathalib fi Shari Raudhit Thalib, Juz I, hlm. 331 menyatakan:

Fa laa tukrahu lahaa ziyaaratuhu, bal tundabu kamaa qaala ibnu rif'ah wa al-qomuliyu an takuuna qubuuru saairil anbiyaa wal awliyaa-i kadzalik

(Maka tidak dimakruhkan bagi perempuan menziarahinya, bahkan disunnahkan. Dan sebaiknya, sebagaimana diutarakan oleh Ibnu Ar-Rafi'ah dan Al-Qamuli, makam-makam para nabi dan para wali disamakan (hukum menziarahinya) dengan makam Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam).

Imam ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Al-Fatawi Al-Kubra Al-fiqhiyyah Jilid 2 hlm. 24 pernah ditanya tentang hukum ziarah makam para wali, dan beliau menyatakan "Ziarah ke makam para wali merupakan salah satu bentuk (upaya) pendekatan diri kepada Allah, dan hukumnya disunnahkan". Dan kami memegang pendapat tersebut.

Kami dan para pengunjung lainnya berziarah ke makamnya bukan untuk meminta akan tetapi tabarrukan atau mengambil keberkahan sebagai washilah/perantara agar doa lebih cepat terijabah oleh Allah, sebab kami yakin para Wali adalah orang yang terpilih dan disucikan oleh Allah karena kedekatan mereka sebagai Hambah Allah yang soleh sebagaimana perkataan Imam Ghazali : Shuduru Al-ulama'kuburu Al-ma'rifat wal asror : dadanya para ulama/waliyullah adalah kuburan para ma'rifat dan terdapat asror/rahasia.

Habib Ali Bin Muhammad Alhabsyi, pengarang maulid habsyi/simthud duror menerangkan fadhilah berziarah makam para waliyullah 'diantaranya "terhapusnya dosa, mengikis bahkan menyembuhkan penyakit-penyakit hati serta meningkatkan derajat kemuliaan di mata manusia maupun disisi Allah".

Dinukil dalam kitab Al-Qirthos, Syarah rotib Al-atas : "siapa yang menulis sejarah seorang wali, maka akan bersama wali itu di surga, siapa yang mutholaah nama seorang wali di dalam buku sejarah kemudian dia cinta kepada wali itu maka seolah-olah dia telah berziarah kepada wali tersebut, dan barang siapa yang berziarah kepada seorang wali maka diampuni dosa-dosanya" diterangkan pula dalam kalamnya Habib Muhammad Bin Thohir bahwasanya ziaroh kubur para wali menjadi asbab mendapatkan futuh (keterbukaan jalan menuju Allah Swt).

Disaat yang sama, ada sedikit kejadian aneh, Saat kami ingin beranjak pergi meninggalkan makam Sunan Ampel sahabat sy (alwiah) mengajak berziarah ke makam kakek buyutnya Habib Muhammad Bin Idrus Alhabsyi yang letaknya masih berada dalam kawasan Ampel, tapi kami tidak tau persis letak makam beliau dan saling bertanya satu sama lain, seketika kami dibuat kaget oleh salah seorang pengunjung makam yang tengah khusyu membaca tahlil dari sejak awal kami datang.

Tiba-tiba menoleh ke belakang ke arah kami berdua saat menyebut nama Habib Muhammad Bin Idrus Alhabsyi padahal kami saling bertanya dengan setengah berbisik dan jaraknya 3 meter di hadapan kami ditambah suara kami pasti tertutupi oleh suasana riuh ramai orang-orang yang berzikir, orang tersebut menghampiri kami dan tanpa diminta menawarkan diri untuk mengantarkan ke makam Habib Muhammad. Meskipun kebenaran cerita ini agak sulit diverifikasi dengan pendekatan rasional, tapi seperti itulah kejadiannya.'

Habib Muhammad adalah Ulama Hadramaut-Yaman yang hijrah ke Indonesia, Guru dari wali-wali besar yang ada di Indonesia dan beliau merupakan murid tertua dari Habib Ali Habsyi (pengarang kitab maulid simtuduror). Habib Muhammad adalah salah satu waliyullah yang mewarnai dakwah di Indonesia dan beliaulah yang pertama kali membuka majlis maulid simtuduror/maulid habsyi.

Hingga kini majlis simtuduror dibaca diberbagai kalangan dan tersebar luas diseluruh wilayah Indonesia. Habib Muhammad juga orang yang pertama kali mengadakan penyelenggaraan Haul para waliyullah di Indonesia sehingga tradisi ini berkembang dan mengakar kuat di sebahagian ummat Islam terutama kalangan nahdliyin (Warga NU).

Setelah kami melakukan serangkaian tawashul di Makam Habib Muhammad orang tadi sebut saja namanya bang Amir mengajak kami ke makam Sunan Botoh Putih yang berada diseberang jalan, berdasarkan keterangan bang Amir Sunan Botoh Putih hidup satu zaman dengan Sunan Ampel, kebanyakan pengunjung yang datang untuk tawashulan ke Makam Botoh Putih insya Allah hajatnya makbul," ucap bang Amir.

Hari ke-2 kami melanjutkan perjalanan ke Pasuruan-Bangil untuk sowan ke kediaman Habib Segaf Bin Hasan Baharun yang merupakan pengasuh Ponpes Darullugoh Wadda'wah sekaligus Rektor Universitas Islam Internasional Dalwa, beliau menjamu kami dengan sangat ramah dan memberikan nasehat serta berpesan untuk selalu mendawamkan Rotib Alatas & Rotib Haddad agar memperoleh keberkahan hidup.

Habib Segaf adalah seorang ulama yang sangat aktif berdakwah di berbagai daerah di Indonesia, salah satu keistimewaan beliau hampir setiap malam bermimpi bertemu Rasulullah bahkan dalam mimpinya Habib Segaf diberikan ijazah langsung oleh Rasulullah berupa shalawat busyroh.

Shalawat yang begitu luar biasa keajaibannya dan sampai saat ini menjadi amalan rutin bagi kami. Malamnya kami melanjutkan berziarah makam ayahanda beliau Habib Hasan Bin Ahmad Baharun.

Berdasarkan kisah dalam bukunya ustad Hanif (pengajar dalwa), di Pasuruan dan kawasan-kawasan sekitarnya beliau sangat dikenal sebagai Ulama, pendidik, yang sangat sabar dan zuhud dalam berdakwah & mendidik santri-santrinya.

Di kalangan ulama yang hidup sezaman dengan beliau Habib Hasan sangat dihormati & disegani sebagai seorang Al-arif Billah yang mencapai maqom demikian tinggi sehingga memperoleh karunia Allah SWT berupa Karomah.

Semasa hidup Habib Hasan, Siapapun yang bertemu dengannya tidak akan pernah menyangka bahwa beliau adalah sosok Waliyullah yang memiliki maqom yang sangat tinggi disisi Allah karena pembawaan dan kesehariannya selalu dibalut dengan kesederhanaan yang luar biasa.

Hari ke-3 kami berdua menuju Makam Habib Soleh Bin Muhsin Alhamid yang terletak di Tanggul, Kabupaten Jember. Beliau dikenal luas dengan sebutan Habib Soleh Tanggul, namanya tidak hanya terkenal di pulau jawa melainkan sampai di luar jawa, beliau merupakan salah satu Ulama besar yang dianugrahi berbagai karomah dan maqom kewalian yang tinggi di sisi Allah, Habib Soleh datang dari Hadramaut untuk mensyiarkan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dalam perjalanan dakwahnya beliau meninggalkan banyak manfaat dan keberkahan yang sangat berjejak di hati ummat islam yang mengenal beliau salah satunya adalah Shalawat Manshub, Amalan ringkas & ringan yang memiliki banyak sekali keutamaan.

Hari berikutnya kami menuju ke Gresik, di makamnya Habib Abu Bakar Bin Muhammad Assegaf sekaligus menjadi persinggahan terakhir, sebelum kami kembali ke Ternate.

Diantara salah satu ceramahnya habib segaf baharun pernah menjelaskan, Habib Abu Bakar merupakan Pimpinan/Presiden Wali sedunia pada masanya bukan se-Indonesia melainkan di Dunia," tegas Habib segaf. Sehingga Habib Abu Bakar mendapatkan julukan AL-Qutb (President Para waliyullah). "Jadi kewalian itu memiliki tingkatan, bersifat struktural.

Tingkatan wali tertinggi disebut Al-Quthbul-Ghouts dan setiap masa hanya ada 1, di bawahnya disebut Al-imamani (dua imam) salah satunya bertugas menggantikan Al-Qutb ketika wafat. Kemudian ada Al-autad berjumlah 4 orang, selanjutnya Al-abdal berjumlah 7 orang Dst," bahkan Imam Syafi'i/Imam Mazhab pernah menduduki Maqom Pimpinan wali Autad pada zamannya,"imbuh Habib segaf baharun.

Habib Segaf melanjutkan dalam ceramanya bahwasanya Habib Abu Bakar pernah berkata semasa hidupnya siapapun yang datang kepadaku disaat aku hidup ataupun setelah wafatku adalah orang-orang yang aku kehendaki untuk datang, sementara yang tidak datang justru aku tidak menghendakinya.

Walhasil, kami memetik banyak manfaat, pelajaran dan pengalaman berharga dalam perjalanan spiritual kami tersebut. Dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan wasilah (sarana) bertabarruk kepada orang sholeh (waliyullah) kami yakin dan percaya bahwa Allah akan mengangkat segala kesusahan, dan kesulitan dan memberikan kelapangan dan kelancaran dalam segala urusan, sebab Allah SWT berfirman:

Alaa inna auliya Allahi laa khufun 'alaihim walaahum yahzananun (Q.S Yunus 63)

(Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran dan tidak pula bersedih hati)

Jika wali-wali Allah itu mendapatkan jaminan tidak akan merasakan takut dan kesedihan, kami yakin bahwa mengunjungi mereka, akan kebagian pula jaminan tersebut atau minimal "kecipratan"... sebagaimana mengunjungi tukang parfum, minimal akan mencium bau harum atau jika beruntung mendapatkan pula wanginya. Bi-idznillah (Dengan Izin/Kehendak Allah)

Wallahu a'lam.

Komentar

Loading...