Coach Dedi Efendi dan Semangat Melatih Sepak Bola dari Desa Toseho, Oba, Tidore Kepulauan

Mimpi Lahirkan Pemain Profesional Berkelas Dunia

Dedi Efendi usai mengikuti pelatihan untuk menjadi pelatih yang berlisensi

Gagal berlaga di event bergengsi skala daerah, tak membuatnya putus asa. Dedi Efendi, tetap bisa mengembangkan bakatnya sebagai pesepak bola dengan menjadi pelatih yang profesional yang bermimpi melahirkan pemain profesional yang terkenal dari desa.

Rahman Makian- Ternate

Setiap orang yang dilahirkan punya bakat  dan potensi yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta. Namun, jika tidak diasah, akan sia-sia. Hal inilah yang membuat Dedi Efendi, kini lebih banyak menghabiskan waktu dan energinya untuk mendidik para talenta muda di kampungnya yang berbakat di dunia sepak bola dengan mentransfer pengetahuan dan pengalaman yang didapatinya.

Sabar dan ikhlas, adalah kunci Dedi untuk tetap bertahan untuk terus memoles para generasi muda di kampungnya Desa Toseho, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Ada impian besar, untuk menjadikan penerus di kampungnya bisa menjadi pemain sepak bola profesional dan terkenal bahkan bisa bersaing di dunia internasional.

Dedi sadar, untuk menjalankan misinya itu, dia perlu wadah dan dibentuklah SSB Tunas Retox. Meski diakui, mengurus olahraga sepak bola, tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, yang diurusi adalah Sekolah Sepak Bola (SSB) dengan kategori usia yang cukup banyak juga  karakter pemain pun bervariasi.

Saat berbincang  dengan Malut Post baru-baru ini, pelatih muda yang sudah sejak kecil tertarik dunia sepak bola ini mengaku, sejak kecil dia selalu giat main bola. Namun, di kampungnya belum ada wadah seperti SSB, jadi mereka hanya asal main untuk menyalurkan bakatnya setiap hari sepulang sekolah ataupun di waktu libur.  Bungsu dari pasangan Efendi Dahlan dan Afilat Ishak itu, melakukan rutinitas tersebut hingga ia tamat dari SDN Toseho pada 2000 silam.

Dia pun memilih untuk lanjut ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Ternate dan SMPN 6 menjadi tempatnya menimba ilmu. Di kota Majang ini, Pria kelahiran Toseho, 17 Oktober 1988 ini berkesempatan untuk meningkatkan skill sepak bolanya. Dedi yang kala itu tinggal di Lingkungan Ngidi, Kelurahan Makassar Barat pun mencari SSB yang bisa membantunya mengembangkan potensinya. SSB Milo yang kini menjadi SSB Cardoba, menjadi tempatnya berlatih. "Saya berlatih bersama SSB Milo sampai lulus dari SMP pada 2003,”katanya.

Pembimbingan yang didapat dari SSB selama tiga tahun ini memberikan nilai dalam kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar itu. Dedi yang lanjut sekolah di SMKN 1 Kota Ternate, terpilih untuk mengikuti seleksi pemain Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), untuk memperkuat Kota Ternate untuk pertandingan tingkat provinsi. "Waktu itu, saya kelas 2 (Kelas XI,red), saya ikut seleksi Popda sama-sama dengan Zulvin Zamrun dan Zulham Zamrun. Alhamdulillah, Saya terpilih,” tuturnya.

Sayangnya, setelah terpilih, mimpinya untuk bisa tampil di laga tingkat daerah untuk siswa itu pupus. Akibat satu kecelakaan yang membuatnya tak bisa bermain. “Pas mau main, saya dapat musibah, tangan saya patah. Makanya, tidak bisa bergabung," tambahnya sendu. Gagal mengikuti ajang bergengsi tingkat daerah, tak membuatnya patah arang dan mengorbankan pendidikan formalnya.Dedi tetap lanjut sekolah hingga tamat dan bahkan lanjut kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unkhair hingga meraih gelar sarjana pada tahun 2012.

Selesai kuliah, Dia belum ingin mencoba melamar pekerjaan dan memilih pulang kampung. Di kampungnya, suami dari Nuraini Sinen ini hanya terlibat di pertandingan antarkampung (Tarkam).

Ketika langkahnya terhenti dan hanya bisa mengikuti laga antar kampung, muncul ide untuk bisa membesarkan anak-anak yang berpotensi di sepak bola. Dia melihat ada bibit-bibit yang tumbuh yang juga diberi perhatian, akan berkembang. Dia berharap, apa yang tak bisa digapainya bisa diraih para generasi penerusnya.

Tak hanya dengan cara biasa, dia ingin bimbingan itu dilakukan dengan cara yang lebih tepat. Karena itu pada tahun 17 Oktober 2019 dia mendirikan SSB Tunas  Retox, nama ini, kata dia merupakan nama yang dibuat sejak tahun 1974, yang merupakan akronim Remaja Toseho dan dia menambahkan kata tunas, agar nantinya yang didik bisa lebih bertumbuh dan berkembang. Dia melatih mereka dengan peralatan seadanya. “Waktu latihan itu, Saya suruh mereka bawa tempurung untuk dijadikan cones (perlengkapan olahraga atau pembatas latihan, red),"tuturnya. Selain fokus mengembangkan pemainnya, dia pun mendaftarkan SSB asuhannya ke Asosiasi Kota (Askot). "Alhamdulillah, administrasi pun Saya sudah bereskan. Kemudian, Saya terus fokus untuk membesarkan SSB Tunas Retox," ungkapnya.

Untuk bisa membesarkan sekolahnya, dia pun harus menyiapkan diri dan tahun 2021, Dedi mengikuti pelatihan pelatih lisensi D, oleh Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia (APSSI) Malut dan tahun berikutnya dia juga mengikuti linsensi C.

Sejak terdaftar tahun 2020 SSB Tunas Retox mulai menjajali berbagai lapangan sepak bola dengan mengikuti pertandingan resmi. Dimulai dengan festival usia dini di Tikep.

"Pertama kali ikut di pertandingan resmi itu, Tunas Retox hanya sampai di babak 8 besar. Tapi, Saya tidak mau putus asa,” tutur Coech Makaeling, pada pertandiangan bolah di Tuguiwaji 2022 lalu.

Kini, didikannya mulai menuai hasil. Tahun lalu, salah satu anak asuhnya juga dikirim ke Gorontalo untuk memperkuat tim Gorontalo United di liga 3 musim 2022, yakni Jisman A. Gafar. Pemain lainnya adalah  Fahran Darwan juga telah membawa Persiter Ternate U-17 menjuarai piala Soeratin U-17. Kini, Fahran juga sedang mengembangkan skill untuk berjuang bersama Persiter Ternate U-17 di putaran nasional.

Terbaru, pada awal Januari lalu, SSB Tunas Retox kemudian menggelar festival usia dini perdana. Yang diikuti oleh oleh 13 SSB. Kemudian, SSB Tunas Retox juga keluar sebagai juara umum pada festival usia dini yang dihelat di Tului pada Jumat (3/2) pekan kemarin.

"Saya akan berupaya keras untuk selalu memberikan yang terbaik bagi SSB Tunas Retox. Saya juga bakal berusaha untuk terus melahirkan Talenta-talenta muda berbakat, yang siap bersaing di pentas nasional hingga internasional," tegasnya.

Dedi mengaku, semangat juang yang tinggi untuk membangun SSB Tunas Retox itu, tak terlepas dari dukungan orang tua pemain. "Orang tua pemain juga memberikan dukungan yang bagus. Jadi, setiap anak-anak mau ikut pertandingan itu, kalaupun ada uang pendaftaran, maka orang tua pemain juga ikut membantu," akunya.

Juru taktik yang siap membangun olahraga sepakbola di Toseho itu mengatakan, Dirinya juga berharap agar keinginan dan semangatnya itu bisa dibantu oleh Pemerintah. "Saya berharap agar Pemerintah bisa membantu keinginan Saya. Karena, harus diakui, kalau SSB Tunas Retox masih kekurangan perlengkapan latihan," pungkasnya. (wm-01/nty)

Komentar

Loading...