Balon DPD-RI, Dr. R. Graal Taliawo: Siap Sambut 2024

Dr. R. Graal Taliawo

Ternate,malutpost.id--Tahapan pemilihan umum, baik di level lokal maupun nasional, sedang berlangsung menyambut pesta demokrasi 2024 mendatang. Berbagai pihak yang terlibat sedang bekerja dan berupaya demi kelancaran agenda demokrasi lima tahunan ini, termasuk di level Dewan Perwakilan Daerah (DPD) khususnya Provinsi Maluku Utara (Malut). Yang terbaru adalah pada 1 Maret 2023 KPU Provinsi Malut mengumumkan rekapitulasi verifikasi persyaratan dukungan minimal pemilih tahap kesatu bakal calon anggota DPD Provinsi Malut. Mereka yang lolos harus memenuhi setidaknya 1000 suara dukungan yang tersebar pada sedikitnya 5 kabupaten. Salah satu yang lolos adalah Dr. R. Graal Taliawo, S.Sos., M.Si.

Laki-laki kelahiran Wayaua (Bacan) ini mengantongi 1.402 suara yang tersebar di 9 kabupaten. “Ucapan syukur kepada-Nya serta terima kasih dan apresiasi terdalam saya sampaikan kepada banyak pihak yang telah terlibat sampai tahap ini,” ungkapnya.

Perjalanan hingga titik ini, menurutnya, adalah tunas dari dukungan masyarakat yang telah menyerahkan KTP-nya. Ia juga menyampaikan terima kasih dan rasa hormat kepada para relawan yang telah mengkoordinasikan pengumpulan KTP, teman-teman LO di setiap kabupaten yang telah mengawal tahap verifikasi faktual, serta penyelenggara yang telah konsekuen menjalankan tugasnya.

Politik Gagasan

Tokoh muda Malut ini menyampaikan bahwa kelolosan verifikasi faktual adalah undakan awal menuju politik gagasan 2024. “Dukungan dari semua pihak menjadi modal dan semangat bagi saya untuk tetap berupaya bersama meniti undakan-undakan berikutnya hingga mencapai puncak,” tambahnya.

Dukungan ini menandakan pula mereka menerima dan terbuka dengan praktik politik gagasan yang diusungnya.  Pada pemilu mendatang, sama seperti Pemilu 2019, ia tetap berkomitmen dan konsekuen menawarkan dan menghadirkan praktik politik alternatif di Maluku Utara: Politik Gagasan.

Metode kampanye yang diusungnya ini terbilang cukup berbeda dari praktik pada umumnya yang kita sudah alami cukup lama ini. “Politik gagasan adalah respons atas keresahan saya akan praktik politik kita selama ini,” tegasnya.

Tak dipungkiri, praktik politik kita disesaki rupa-rupa transaksional. Ini pula yang ia rasakan, bahwa praktik politik kita cenderung mempertukarkan hak pilih/suara dengan uang, sembako, ataupun bentuk barter lainnya. Padahal, bagi laki-laki yang kerap disapa Graal Taliawo ini, politik yang ideal adalah mempertukarkan ide/gagasan serta memperbincangkan agenda politik dan kebijakan ke depan. Yang tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat (publik), bukan kepentingan yang bersifat privat.

Harapannya politik gagasan ini bisa menjadi instrumen atau cara yang akan dipakai oleh masyarakat untuk menyeleksi setiap kandidat. “Pemilu 2024 dan ke depan, kitong tra boleh asal pilih, karena ini akan menentukan nasib kebijakan lima tahun ke depan. Dampaknya bukan hanya kepada kita, tapi juga masyarakat luas,” lanjutnya.

Pada momen politik ini, ia ingin semua pihak mengambil kesempatan untuk berbenah, utamanya masyarakat dan kandidat yang merupakan subjek dalam politik (bukan objek). Masyarakat harus lebih selektif dalam menggunakan hak pilih. Di sisi lain, kandidat perlu menyiapkan diri supaya berkualitas dan bermutu. “Masyarakat menagih, meminta, serta menguji setiap agenda kerja yang jelas dan terukur dari setiap kandidat, sedangkan setiap kandidat—baik pusat maupun daerah—menyuguhkan agenda kerjanya; bukan menyogok warga dengan sembako dan barang-barang material lainnya”, lanjut dia.

Dengan begitu, politik gagasan akan benar-benar dipraktikkan oleh setiap orang, dan yang terjadi adalah pertukaran ide serta saling uji, bukan saling jual-beli suara. Ruang demokrasi pun akan menjadi sehat dan berkualitas.

Agenda Kerja

Ketika ditanyai mengenai kesiapannya menuju 2024, dengan lugas ia mengatakan sangat siap dengan politik gagasan sebagai metode atau cara kampanyenya. Berbekal latar belakang pendidikan yang banyak bersinggungan dengan dunia politik—ilmu administrasi negara, ilmu sosiologi, dan ilmu politik—serta pengalaman kerja yang cukup lama di bidang legislatif (DPR-RI dan DPR Papua), ia yakin bahwa sedikit banyak ini akan bermanfaat dan mendukung tugas dan fungsi di parlemen kelak.

Terkait agenda kerjanya, doktor ilmu politik ini, mengatakan bahwa masih tetap sama sebagaimana dahulu pada 2019. “Untuk agenda kerja, masih sama. Tidak ada yang berbeda. Secara prioritas, melalui tugas dan wewenang di DPD-RI, saya akan menyuarakan, mengawasi, dan mendorong adanya arah baru kebijakan negara dalam pengembangan sektor pertanian dan perikanan di Maluku Utara,” tegasnya.

Menurutnya, prioritas pembangunan atas dua aspek itu sangat dibutuhkan. “Kita perlu menaikkan nilai dari setiap produksi kedua sektor tersebut. Ini mengingat basis ekonomi utama maupun secara kultur masyarakat Maluku Utara adalah petani dan nelayan, serta sumber daya di kedua sektor tersebut lebih menjanjikan sebagai masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat Maluku Utara,” tandasnya.

“Ketika kedua sektor tersebut dikembangkan secara maksimal dan optimal, diharapkan pengembangan sumber daya manusia Maluku Utara juga akan ikut diarahkan ke sana. Kita berharap di masa depan akan muncul petani-petani muda serta nelayan-nelayan andal dengan kualitas maju dan mumpuni karena didukung oleh ekosistem industrialisasi pertanian dan perikanan yang difasilitasi oleh negara,” sambungnya.

Graal menegaskan, apabila publik Maluku Utara memberikan dukungan, maka menyuarakan pentingnya industrialisasi sektor pertanian dan perikanan adalah agenda prioritas dan akan menjadi fokus utama kerja-kerja politiknya.

Singkat kata, menurut Graal, politik gagasan adalah prinsip dan cara kampanyenya, sedangkan agenda mendorong industrialisasi pertanian dan perikanan adalah gagasannya.

Graal Taliawo, yang kini berusia 35 tahun, berharap dan yakin kita semua menantikan dan menginginkan adanya perbaikan-perbaikan di semua lini kehidupan, termasuk dalam bidang politik. “Pengalaman safari politik gagasan pada Januari lalu semakin menumbuhkan rasa optimistis saya (dan kita semua) bahwa politik gagasan sebagai praktik ternyata masih mendapat tempat di masyarakat, dan karena itu layak untuk terus dilakukan. Tak lain, itu juga demi praktik politik yang bermartabat dan dewasa, serta demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.(adv/udy)

 

Komentar

Loading...