Ketika Cantik menjadi Alat Feminisasi

Oleh: Syauki Lemasa

Di suatu sore, ketika saya sedang asik berjalan di salah sebuah pusat perbelanjaan, tanpa sengaja mata saya menangkap seorang perempuan dengan beberapa produk rokok di sebuah kotak yang dibawanya, nampaknya dia seorang sales marketing, penampilannya dipoles sedemikian rupa untuk menarik perhatian para pengunjung yang berlalu-lalang dalam sibuk.

Beberapa orang, kebanyakan laki-laki mengerumuninya, entah ingin membeli produk yang ditawarkan sales itu atau mengantar niat lebih; mencuci mata dan mengotori pikiran.

Dewasa ini, peristiwa-peristiwa serupa sering terjadi, bukan hanya di dunia nyata, tapi juga bisa kita dapati di layar kaca seperti televisi dan gawai.

Iklan shampoo misalnya, semenjak saya kecil hingga hari ini, konsep promosinya tak pernah berubah – meski iklan dan perannya sering berganti – tetap saja yang ditampilkan adalah sosok perempuan dengan rambut hitam, panjang dan lurus teruai.

Tak salah sebenarnya, karena jenis rambut perempuan Indonesia sebagian seperti yang digambarkan adanya.

Namun, dalam konteks Indonesia yang sebagaimana kita sadari sebagai negara multikultural dan heterogen, tentu memiliki berbagai macam ras manusia yang hidup di dalamnya dan hal ini menunjukkan bahwa tak seluruh perempuannya berambut seperti yang diiklankan, ada yang berambut ikal, keriting, pendek atau bahkan berwarna agak kemerah-merahan.

Nampaknya industri ini alpa mengingat ragam citra perempuan Indonesia.

Sialnya pikiran kita mau dikonstruk lalu percaya bahwa definisi cantik itu adalah apa yang terlihat dipermukaan layar kaca, sehingga perempuan-perempuan yang cirinya sama seperti penggambaran itu merasa puas karena anggapan mereka dengan mudah bisa menarik kekaguman lawan jenis atau bahkan masyarakat pada umumnya.

Silanya, kita tak menyadari bahwa dibalik semua fenomena ini, ada industri kapitalisme yang dengan gamblang telah menyusun berbagai siasat agar mampu menempatkan perempuan sebagai produk pasar.

Dari kuku naik hingga ujung helai rambut perempuan merupakan pasar yang bagi kapitalisme itu sangat menjanjikan. Berbagai mitos diusung oleh kapital.

Baca Halaman Selanjutnya...

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...