Perempuan dan Multi Peranan serta Beban Gandanya

Oleh: Sirli Saputri H. Abdurachman

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Khairun Ternate)

Berbicara mengenai perempuan kita bisa melihat dalam KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan perempuan itu yang memiliki vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui, sedangkan secara etimologinya perempuan berasal dari kata per yang berarti makhluk, empu yang berarti mulia, tuan, dan mahir. Dengan demikian bisa dimaknai sebagai makluk yang mempunyai kemuliaan ataupun kemampuan.

Adapun yang kita tahu multi peran bagi perempuan adalah tugas rangkap yang kemudian dijalankan oleh perempuan atau lebih dari satu peran. inipun bisa terjadi kepada laki-laki.

Semisal, sebagai ibu rumah tangga, istri dari suami, orang tua dari anak-anak, juga bisa sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Faktor ini juga menjadi tantangan besar bagi kalangan perempuan, sebab harus lihai dalam mengatur dan menyeimbangkan waktu.

Banyak sekali pertanyaan dan juga pernyataan dari sebagian besar masyarakat seperti, mengapa perlu memilih menjadi ibu rumah tangga ataupun menjadi figur publik, jikalau perempuan bisa melakukan keduanya sekaligus.

Mengapa harus perempuan yang memiliki peranan lebih banyak? Dikarenakan perempuan punya kesanggupan dalam mengupayakan agar tidak menjadi perempuan yang ketertinggalan dalam aspek apapun.

Menurut Najwa Shibab dalam menyikapi pertanyaan pertama diatas seolah-olah perempuan harus memilih untuk menjadi perempuan yang ketertinggalan dan hanya mengurusi ranah domestik dan tidak mempunyai hak dalam menentukan pilihan mereka sendiri.

Ini yang perlu kita ubah paradigma berpikir agar midset kita tidak disitu situ saja dan mempunyai kemajuan. Zaman dan teknologi saja semakin hari semakin berkembang bagaimana dengan kita? Yang masih menaruh persepsi kepada perempuan yang hanya mengutamakan kasur, sumur dan dapur.

Juga ada pemahaman-pemahaman yang menyengsarakan seperti perdebatan gender mengenai siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah, padahal jika kita telisik lebih jauh bukan persoalan itu yang kita soalkan, tetapi persoalan kesamaan hak.

Kadang kala sebagian masyarakat kita salah dalam mencetuskan pemikiran-pemikiran yang terlalu mendasar, akhirnya menimbulkan berbagai macam problema yang turun temurun.

Padahal kita hanya ingin mempunyai hak yang sama dalam aspek apapun. Bukan berarti kita menentang kodrat. Perempuanpun juga manusia bukan? Ini yang menjadi tolak ukur sebenarnya, tidak ada keterkaitan kodrat, sebab, yang dilawan adalah pemikirannya bukan orangnya.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...