Impor Beras; Permainan Mafia?

Oleh: La Ode Zulmin
(Anggota Forum Studi Independensia)

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” (Koes Plus, 1970).

Sepenggal lirik lagu dari Koes Plus kalau diplesetkan jadi begini: “orang bilang tanah kita tanah surga, tetapi sandang, pangan dan papa dari bahan impor”. Barangkali plesetan lirik itu sebagai gamparan agar dapat membangunkan kita dari mimpi buruk dan sebagai renungan bagi kita yang memiliki sumberdaya alam yang begitu melimpah, tetapi masih suka impor dari negara lain. Padahal, jika dilakukan sendiri tentu bisa.
Bangsa kita diidentik dengan negara agraris di mana sebagian besar masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Mekipun begitu tidak menutup kemungkinan untuk tidak melakukan impor apa pun dari negara lain. Ihwal yang krusial dari impor bangsa ini adalah soal beras yang jelas-jelas bisa diproduksi secara mandiri. Barangkali, pemerintah belum menaruh kepercayaan pada pertanian kita, khususnya untuk beras.
Dari dulu hingga sekarang bangsa ini sangat gemar mengonsumsi beras impor, daripada memilih menghargai produk bangsa yang bertani secara mandiri sendiri. Memang impor beras sangat penting jika pasokan pangan yang menurun untuk memperkuat kembali stok beras yang terkuras. Namun, di saat yang bersamaan juga membuat para petani tercekik. Gara-gara impor beras, pada tahun 2021 ada sekitar 106 ribu ton beras yang mendekati pembusukan dalam gudang. Beras itu sisa 1,8 jutan ton beras pada 2018.
Kalau beras yang ada di gudang sudah busuk, tampaknya ada semacam pembenaran terhadap pemubaziran, sementara masih banyak masyarakat yang setiap harinya belum tentu dapat melahap makanan. Hal ini karena menumpuknya pasokan beras, selain dari hasil pertanian kita yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, pun dari hasil impor yang tidak sedikit jumlahnya. Sudah mengimpor beras dan mencederai para petani, tetapi malah dibiarkan busuk dalam gudang.
Kepentingan impor kerap kerap bertepatan dengan panen raya dalam negeri. Hal ini pernah terjadi, pada tahun 1981 meskipun stok beras nasional mampu memenuhi lumbung-lumbung daerah, tetapi pemerintah masih mengimpor beras sebanyak 500 ton beras. (Lihat Majalah Tempo, Edisi 4 April 2021).
Namun, di balik impor beras secara besar-besaran semacam ini kerap ada oknum yang bermain dibelakang, mengorbankan masyarakat, tetapi hanya ingin meraup untung yang tinggi. Impor beras kerap berseberangan dengan kepentingan petani kita. Sekalipun tujuan impor itu untuk memenuhi semua kebutuhan cadangan beras, tetapi, tetap saja mencederai petani.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...