Pertanian Ternate

Oleh : Ati’ah Dyah Lestari, SST.
(Statistisi Ahli Muda BPS Kota Ternate)

(Tercatat dalam Sensus Pertanian 2023)
Antara Pola Pikir Dan Keterbatasan Lahan

Gambaran Umum
Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Ternate memang tidak besar bila dibandingkan dengan sektor jasa, yang menjadi ciri khas Ternate sebagai wilayah perkotaan. Namun demikian bagi Ternate kegiatan pertanian memiliki nilai strategis apalagi Ternate dijuluki sebagai Kota Rempah. Berdasarkan data BPS pada tahun 2022 kontribusi sektor pertanian sebesar 524 miliyar atau 4,26 persen menyumbang nilai PDRB Ternate dengan pertumbuhan sebesar 3,42 persen dari tahun sebelumnya. Sektor pertanian disini mencakup Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, Kehutanan dan Jasa Pertanian. Penerapan kriteria kawasan peruntukan pertanian secara tepat diharapkan akan mendorong terwujudnya kawasan pertanian yang bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan ketahanan pangan, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, maupun kontribusi tidak langsung melalui penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan sinergitas dengan sektor lain. Pembangunan pertanian merupakan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat tani, yang dicapai melalui sinergitas faktor utama yang meliputi sumber daya manusia , sumber daya alam, teknologi dan kelembagaan pertanian.

Kendala dan Tantangan
Potensi strategis pertanian di Kota Ternate sebagai kota rempah tentu tak luput dari kendala dan tantangan yang dihadapi baik dari sisi internal maupun eksternal. Dari internal pertanian tantangan klasiknya adalah masih adanya pola pikir bahwa seseorang yang bergelut di dunia pertanian akan mengalami ketertinggalan. Dalam kehidupan masyarakat mereka akan lebih bangga bekerja di sektor lainnya dibanding sektor pertanian. Sangat mungkin petani akan menjual lahannya untuk membeli barang modal lain seperti motor, mobil atau mesin-mesin sebagai modal kegiatan ekonomi di luar pertanian. Mereka melakukan tersebut karena menilai nilai tambah yang dihasilkan akan lebih tinggi dan lebih cepat dibanding bertani. Apalagi sebagai wilayah perkotaan nilai jual tanah di kota Ternate sangatlah tinggi yang menggiurkan tentunya.
Tantangan berikutnya adalah seiring pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di luar pertanian akan membutuhkan lahan untuk menopangnya. Penduduk memerlukan tempat tinggal, aksesibilitas infrastruktur dan ruang lainnya dalam kehidupan. Mau tidak mau akan memanfaatkan lahan yang selama ini menjadi media pertanian, terjadilah konversi lahan pertanian ke non pertanian. Kondisi ini menjadikan pertanian menemui “buah simalakama”, penduduk membutuhkan pangan sehingga produksi pertanian harus terjaga. Namun di sisi lain lahan untuk menghasilkan telah berkurang karena beralih fungsi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...