Mengelola Polarisasi Politik

Oleh: Muhammad Kamarullah
Lulusan FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

“The polarization in our politics is real, so are its damaging consequences” (James Q. Wilson, ilmuan politik Universitas Harvard).

Dalam beberapa dekade ini, berbagai negara di dunia tengah dihadapkan dengan problem polarisasi. Bahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, elit dan warganya terbelah antara kaum liberal dan konservatif, antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Begitu pula di Inggris, polarisasi politik terjadi dalam spektrum kiri-kanan yang direpresentasikan oleh Partai Buruh dan Partai Konservatif. India sebagai negara demokrasi terbesar di dunia juga mengalami hal serupa. Bergeser ke Amerika Latin, negara seperti Kolombia, Venezuela, Bolivia, dan Brasil bahkan tertatih-tatih untuk keluar dari konflik akibat keterbelahan sikap politik masyarakatnya itu.

Ekstrimnya polarisasi ini bisa berdampak destruktif. Sebagaimana yang terjadi di Suriah dan Yaman. Konflik bersenjata berlangsung lama dan sampai sekarang belum mendapat angin segar perdamaiannya. Begitu juga di Mesir tahun 2013, polarisasi kemudian berujung pada kudeta militer yang pada akhirnya membawa Mesir kembali pada rezim otoritarian.

Sementara di Indonesia, banyak studi menjelaskan isu polarisasi sebagai bukan hal baru melainkan telah ada sejak lama bahkan di era orde lama. Puncak polarisasi era Orla ini berujung pada konflik massa tahun 1965. Dan paska reformasi 1999-2014, fakta polarisasi diyakini tak begitu ekstrim. Utamanya ketika SBY memainkan “politik merangkul” berbagai kelompok kepentingan, tak terkecuali elemen-elemen ultrakonservatif sekalipun. Lebih lanjut oleh Slater dan Aries Arugay (2018) mencoba mengomparasikan Indonesia dengan negara-negara Asia lainnya terkait isu polarisasi ini. Hasil risetnya menunjukkan bahwa tingkat polarisasi di Indonesia tergolong rendah.

Meski demikian, tetap harus diantisipasi secara cermat, jangan sampai “bom waktu” polarisasi ekstrim menghampiri. Sebab, jika perlahan mencermati realitas sosiopolitik Indonesia nampak begitu potensial menjadi bahan bakar konflik. Hal ini ditandai dengan menguatnya identitas keagamaan yang ekslusif pada sebagian masyarakat Indonesia. Di tambah dengan perilaku elit politik yang tak jarang memanfaatkan situasi ini untuk memobilisasi suara. Persis dengan apa yang terjadi kala Pemilu 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, dan kembali menguat pada momentum Pemilu 2019.

Plus-Minus Polarisasi
Menguatnya polarisasi memberikan sejumlah efek dalam masyarakat. Bahwa polarisasi selalu diidentikkan dengan hal “negatif” telah diketahui khalayak banyak. Akan tetapi, berbeda halnya dengan riset yang dilakukan oleh Elizabeth N. Simasa dan Adam L. Ozerb (2021) yang secara komprehensif mengungkapkan polarisasi yang terjadi di AS dari tahun 2010 sampai 2018. Dalam riset ini menjelaskan polarisasi di AS kian berefek pada meningkatnya partisipasi politik warga negara. Dan dalam negara demokrasi, salah satu indikator iklim demokrasi negara tersebut dikategorikan baik ialah partisipasi politik yang tinggi atau meningkatnya gairah politik publik.

Selain itu, polarisasi membelah masyarakat ke dalam dua kutub. Masyarakat terbelah atas berbagai isu-isu fundamental, kebijakan, atau ideologi, dan bahkan fanatisme terhadap figur. Ada masyarakat yang terafiliasi dengan kekuasaan dan yang tidak sama sekali. Ada oposisi dan koalisi. Positifnya, komposisi masyarakat semacam ini akan berdampak pada tumbuh kembangnya demokrasi. Dalam artian ada chack and balance dalam keberlangsungan roda pemerintahan.

Namun, polarisasi politik ini jauh memiliki daya rusak yang lebih besar bahkan lebih brutal lagi. Dimana gairah pemilih cenderung termotivasi lantaran ingin menjegal kandidat tertentu. Sikap apolitis, kian berubah menjadi ketegangan politis. Merujuk Shanto Iyengar dan Masha Krupenkin (2018) menilai bahwa partisipasi politik masyarakat AS sebagai imbas dari polarisasi politik itu hanya untuk menyerang lawan semata. Yang kemudian mengabaikan platfom dan kualifikasi kandidat selama pemilu AS.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...