Kopi 80 Ribu dan Kesenjangan Sosial

Oleh: Eko Apriyanto, SST
(Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi Maluku Utara)

Dalam beberapa pekan terakhir, sebuah video viral di jagad maya memperlihatkan seorang investor membagikan awal kisah saat mengawali karir suksesnya. Investor muda asal Tangerang Selatan tersebut mengunggah sebuah video motivasi finansial bertajuk “Kesalahan Terbesar Investor Gua di Umur 18 Tahun” pada tanggal 17 Februari 2023.

Dalam video tersebut terdapat kalimat yang cukup banyak menuai perhatian publik yakni “Kalian coba ya, kalian coba datang ke hotel-hotel bintang lima di Jakarta. Kalian coba datang ke lobby-lobby hotelnya. Kalian ngopi di sana 80 ribu mungkin 100 ribu”. Demikian sepenggal ucapan investor tersebut yang katanya ia lakukan saat tak punya uang.

Meskipun poin yang ingin diutarakan investor tersebut ia maksudkan untuk mengubah pola pikir seseorang dengan cara melihat perilaku orang-orang kaya. Tapi justru ucapan tersebut membuat sebagian besar masyarakat termasuk penulis sendiri geleng-geleng kepala. Pasalnya, jika benar-benar tidak memiliki uang sepertinya kita tidak mungkin memilih minum kopi seharga 80 ribu rupiah di hotel bintang lima.

Melainkan lebih memilih untuk membeli nasi, lauk pauk dan makanan pokok lainnya. Betapa tidak, ucapan investor tersebut tentu juga agak miris diutarakan terlebih di tengah kehidupan sebagian masyarakat Indonesia yang masih terpuruk dalam kemiskinan dan kesenjangan sosial. Lalu bagaimana sebenarnya tingkat kesenjangan di negeri ini?

Bangkit dari Pandemi COVID-19 dan Krisis Pangan
Jika kita menengok ke belakang, perekonomian berbagai negara di dunia sempat hancur akibat pandemi COVID-19. Bahkan tak sedikit yang mengalami resesi ekonomi. Pun demikian dengan Indonesia yang resmi masuk jurang resesi per kuartal III-2020 dengan pertumbuhan ekonomi -3,49 persen. Seirama dengan hal tersebut, potret daya beli masyarakat Indonesia termasuk Maluku Utara pun sangat lesu kala itu.

Laju pertumbuhan dari komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga Maluku Utara terkontraksi sebesar 0,57 persen pada triwulan III-2020 (y-o-y). Mengingat berbagai kinerja sektor lapangan kerja yang memburuk turut mempengaruhi penghasilan sebagian besar masyarakat. Kala itu, persentase penduduk miskin Indonesia pun kembali diangka dua digit yakni sebesar 10,19 persen per September 2020. Begitu juga dengan tingkat kemiskinan Maluku Utara naik 0,19 persen poin menjadi 6,97 persen per September 2020 dibandingkan Maret 2020.

Seolah belum selesai, tahun 2022 dunia dihadapkan pada krisis pangan dan energi imbas konflik Rusia-Ukraina. Sebagai dua dari negara penghasil kebutuhan pangan dan energi dunia, sontak rantai pasok distribusi pangan dan energi dunia pun goyah. Efek domino dari kejadian tersebut, beberapa komoditas di pasaran mengalami kenaikan harga sepanjang tahun 2022 seperti minyak, tepung gandum, tepung terigu, kedelai, telur ayam ras, daging sapi, dan mie kering instan. Sehingga praktis membuat masyarakat perlu merogoh dompet lebih dalam.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...