Ramadan Dan Perilaku Konsumtif?

Oleh: Abd Rauf Wajo
(Dosen Ekonomi Islam IAIN Ternate)

Prakata
Seruan puasa ramadhan, tidak semata pekerjaan ritualitas yang transeden karena kewajiban hamba pada Allah, melaikan perlu mewujud dalam bentuk imanen pada dinamika sosial. Spesifiknya, berpuasa disamping membentuk jadi diri manusia untuk memiliki keshalehan individual (mahdah) sekaligus sebagai kesalehan sosial (ghairumahdah).

Melalui media puasa, setiap muslim memperoleh pengalaman moral yang terkait langsung dengan eksistensinya di muka bumi; yaitu suatu kedekatan bathin antara manusia dengan Allah melalui pelaksanaan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan mengharapkan keridhaan dari-Nya; mengasah kepekaan sosial dan memupuk rasa solidaritas kemanusiaan; serta suatu pendidikan internal (tarbiayatun nafs) terhadap manusia untuk selalu mawas diri pada hawa nafsu sebagai musuh besar yang tidak pernah berdamai.

Betapa besar kemuliaan puasa, sehingga setiap kehadirannya selalu disambut dengan penuh suka cita dengan perbekalan jasmiah maupun rohaniah yang cukup agar dalam menjalankanya bisa khusu’ dengan dambaan memperoleh derajat taqwa (Q.S. Al-Baqarah :183). Namun demikian dalam realitasnya, suka cita keberadaan puasa sebagaimana dimaksudkan -pada sebagian umat Islam- tidak searah dengan esensi ramadhan sebagai bulan kemuliaan.

Eforia penyambutan ramadhan, dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan jumlah konsumtif rumah tangga dengan cara memilih dan berbelanja semua barang yang diinginkan (bukan dibutuhkan), dalam jumlah yang banyak dengan dalih untuk kepentingan berpuasa. Sebagai yang tampak, saat jelang dan memasuki bulan ramadhan, ummat muslim berbondong-bondong pergi ke pusat perbelanjaan (central market) untuk membeli kebutuhan pokok sebagai persiapan domestik untuk kepentingan ibadah puasa.

Pun demikian bagi para distributor yang memanfaatkan meningkatnya daya beli konsumen penyediaan barang kebutuhan dalam berbagai varian bentuk dan harga. Ternate misalnya, Kota dengan penduduk mayoritas muslim ini, ketika memasuki bulan ramadhan, pusat-pusat perbelanjaan terutama pasar sebagai penyedia kebutuhan pokok menjadi lebih ramai dibanding hari biasanya.

Lalu-lalang kendaraan dan manusia yang berjual beli jenis kebutuhan pokok rumah tangga serta deretan kedai dan tenda jualan yang menjajakan aneka makanan dan minuman, juga menu berbuka puasa sepanjang jalan, menunjukkan bahwa suka cita ramadhan –bagi sebagian pengikutnya- menjadi moment konsumtif yang sangat materalis. Jauh dari arti hakikat puasa sebagai momentum kedekatan bathin (spiritual), kepekaan sosial dan pendidikan internal (tarbiayatun nafs).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...