Keakraban dan Peradaban

Oleh : Ahlan Mukhtari Soamole, M.T
(Penulis adalah Pegiat Pertambangan)

Sekilas runtuhnya keutuhan berbangsa, bernegara dimulai dari retak dan renggangnya keakraban membuat keterpecah belahan relasi sosial, secara individual maupun kelompok berdampak luas pada harapan-harapan tercerabut, upaya-upaya mengkosntruksi peradaban tertutup tertahan pada berbagai problematik keumatan, kebangsaan, lunturnya keakraban holistik tergantikan dengan berbagai rupa kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, bercokolnya dewan rakyat pada parlemen menampakkan seremonial di luar sana, industri-industri meronrong desa alami, lingkungan bersih terkontaminasi uap-uap batubara, polusi membuat keakraban dalam sikon (situasi-kondisi) hidup bernegara.

Industrialisasi dan desa kosmopolitan mengubah corak perubahan gaya hidup seperti diungkapkan Simmel, dikutip dari Budi Hardiman (2019) ketika kota-kota (desa kosmopolitan) tumbuh pesat, gaya hidup dan perilaku manusia di dalamnya berubah, manusia mengungkapkan dirinya secara baru. Pergeseran watak keakraban memiliki etos fundamental, egaliter, gotong royong adalah culture perjuangan panjang ketertindasan, penindasan, kolonialisme, imprealisme, kapitalisme, komunisme, etos secara inklusif adalah spirit pembangunan dan kemerdekaan manusia mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan ekologis.

Keakraban pupus akibat menguatnya culture feodalisme, hipokrit masih tertanam amat kuat, derasnya globalisasi kapitalisme pasar mengubah watak kolektif menjadi individual dengan memenuhi gaya hidup keinginan semata. Sebagaimana menurut J. Sudarminta dikutip dari Budi Hardiman (2019). Individu-individu dalam masyarakat industri maju sudah lama sekali terasing dari hakikat dirinya dan telah menyesuaikan dirinya selanjutnya dengan tuntutan efisiensi sistem produksi kapitalis.

Ungkapan terakhir dalam bukunya counter revolution and revolt mengungkapkan nada cukup pesimis : krisis akhir kapitalisme mungkin membutuhkan keseluruhan dari satu abad. Memang jelas adanya apabila keseluruhan pola laku tindak secara tak sedari terserahkan pada mekanisme pasar, hegemoni industri alih-alih pertumbuhan ekonomi namun berdampak buruk pada ruang ekologis akibat eksploitasi masif.

Hal ini sesungguhnya akibat suatu pandangan ephitumia melekat amat kuat soal materi uang makan dan keberlangsungan hidup membuat ketergantungan, bagian dari cara produksi suatu desa kosmopolitan dan industrialisasi pabrik-pabrik besar megah, dibandingkan bilamana diletakkan pada cara pandang rasional, logis sehingga meletakkan pembangunan manusia pada keutamaannya keadilan, kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Keakraban pada gilirannya diharapkan menjadi tumpuan pergaulan internasional, menumbuhkan persilangan kebudayaan dan etos konstruktif, kebudayaan-kebudayaan terlepas dari penindasan kemiskinan , korupsi, atau mental-mental korporatokrasi sarat hanya kepentingan sepihak.

Seperti memperoleh kekuasaan timpang, mengumpulkan kekayaan sepihak menguasai sumber daya alam, seremonial-seremonial pada politik parlemen, politik-politik pencitraan alih-alih berpihak pada rakyat namun pada kenyataan rakyat termarjinalkan, korporasi mendikte kebijakan pemerintah, pada gilirannya institusi-institusi politik merusak berdampak pada keterbelakangan negara minimnya suatu kepercayaan (distrust) kemudian jauh dari upaya-upaya pembangunan manusia.

Perubahan terus-menerus maju tentu berdasar pada akselerasi dan keseimbangan antara alam dan manusia, mengurangnya eksploitasi sumber daya logam terjadi secara masif sehingga lingkungan dan manusia juga memperoleh keakraban sama. Hal-hal itu tentu terlaksana bila suatu upaya mendasar menentang bentuk-bentuk kezaliman, keserakahan, kesombongan terkadang menimbulkan malapetaka yakni tindakan-tindakan berlebihan memungkinkan merusak siklus keakraban tersebut.

Opini ini sudah terbit di koran Malut Post edisi, Rabu 5 April 2023.

Komentar

Loading...