Literasi Dan Generasi

Oleh: Mutia Lotono
(Mahasiswi Universitas Halmahera)

Begitulah Arloji Marsinah kadang membawa kita pada gubuk tua milik pak Ingat dimana Indonesia menjadi primadona para pemangsa dari manca Negara, masing-masing dari mereka melucuti menarik habis serat benang dengan serakah sedangkan Indonesia belum merata sejahtera hal itu seakan takdir tanpa pikir padahal Indonesia pernah menjadi satu diantara banyak negara dengan SDMnya yang dalam perjalanan sang genius Bj Habibi menjadi mahasiswa potensial menciptakan pesawat serta masih banyak lagi orang-orang hebat pada masanya.

Tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk perjuangan yang cukup panjang seperti indonesia dari perang fisik sampai perang saraf diantara pertarungan ruang hidup para terdahulu mempertaruhkan hidup demi untuk generasi yang akan datang dengan harapan hidup lebih bermartabat, bahagia serta anak-anak tidak lagi memanggul bambu runcing juga tidur yang tak nyenyak.

Kini itu tak dirasakan lagi oleh generasi akan pahit getirnya mempertahankan tanah air tercinta, tinggalah sejarah yang kemudian di dongengkan tanpa memaknai setiap derai langkah juang, yang menjadi satu dari banyak pertahanan saat ini mungkin dari dahulu kala ialah tentang pengetahuan sebagaimana di jelaskan oleh M Arif Pranoto dan Hendrajit dalam karyanya ‘Perang Asimetris’ mengafirmasikan bahwa peperangan gaya baru telah dimulai yaitu perang secara pemikiran, saat ini kemenangan dalam berperang dapat diaktualkan dengan mematangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kalau ini tidak di sadari oleh generasi maka kita akan selalu berada pada garis yang hanya“mengantar Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan” tidak masuk dan bermukim dalam hakikat kemerdekaan yang dicita-citakan, realitas sosial menunjukan kita belum merdeka 100% yang usianya tak lagi muda namun mungkinkah dengan generasi muda Indonesia dapat mengembalikan wajah ibu pertiwi dari hantaman perang industri tentu itu sudah terlambat kemudian apa yang harus di lakukan oleh generasi mudanya?

Kita berada dalam perang seperti apa yang dikemukakan diatas (perang secara pemikiran) jika ini di sadari sedari awal maka generasi saat ini akan menyibukkan dirinya dengan literasi “mengasah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, mencipta, mengomputasi dan berkomunikasi” (UNIESCO, 2004). Kalau tidak menyibukkan diri dengan hal produktif semacam itu kita akan jumpai pada lingkungan masing-masing degradasi moral serta hidup dalam lingkungan banalitas intelektual di era pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Minimnya kegiatan ‘Berliterasi’ ini juga penyuplai kemunduran suatu peradaban, fakta empiris memperhadapkan saya dengan realitas generasi dalam program kampus mengajar yang di selenggarakan oleh Kemdikbudristek ini suatu perenungan tersendiri yang menggelisahkan dengan dihadapkannya potensi SDM kita dari tingkat SD-SMP betapa lemahnya dalam sisi literasi pengalihan aktivitas bersama gadget tentu kalau tidak di bekali dengan pengetahuan yang baik soal pemanfaatan gadget sebagai media instrumen memperoleh ilmu pengetahuan maka aktivitas bersama gadget itu hanya berkutat pada yang tidak menghasilkan pencerahan berfikir.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...