Industrialisasi Nikel; Di Mana Pembangunan Obi

Oleh: Asyudin La Masiha,S.S
(Alumni Prodi Sejarah FIB Unkhair, manta Ketua BEM Unkhair dan Ketua MPO GPMO-MALUT)

SUMBER daya mineral di Indonesia memiliki potensi yang cukup banyak dan hampir tersebar di seluruh pelosok nusantara. Indonesia yang kaya akan sumberdaya mineral sehingga menghasilkan pemasukan yang cukup besar bagi negara melalui pajak dan royalti setiap tahunnya. Menurut United States Geological Survey (USGS), cadangan nikel Indonesia adalah nomor satu dunia, Dari 2,67 juta ton produksi nikel di seluruh dunia, Indonesia telah memproduksi 800 ribu ton, jauh mengungguli Filipina (420 ribu ton Ni), Rusia (270 ton Ni), dan Kaledonia Baru (220 ribun ton Ni). Selain itu, berdasarkan data dari Kementerian ESDM tahun 2020, ketahanan cadangan nikel di Indonesia mencapai 2,6 miliar ton cadangan dengan umur cadangan mencapai 27 tahun.

Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton (tereka 5.094 juta ton, terunjuk 5.094 juta ton, terukur 2.626 ton, hipotetik 228 juta ton) dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton (terbukti 3.360 juta ton dan terikira 986 juta ton). Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam. Data menunjukan bahwa SDA nikel di Indonesia sangat mendukung untuk meningkatkan ekonomi aktivutas ekspor, investasi, dll. Investasi merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengembangkan harta kekayaan yang dimiliki secara produktif. Investasi dapat dilakukan di Pasar Modal dalam bentuk saham yang memiliki peran penting dalam kegiatan ekonomi.

Adapun faktor-faktor yang dijadikan bahan pertimbangan investor dalam menanamkan modalnya antara lain: Faktor Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Faktor Stabilitas Politik dan Perekonomian, Faktor Kebijakan Pemerintah, dan Faktor Kemudahan dalam Perizinan. Realisasi investasi sub sektor mineral dan batu bara sendiri baru mencapai sebesar US$3,5 miliar hingga 10 Desember 2021, atau 81,3 persen dari target US$4,3 miliar, dalam mendukung perkembangan dan percepatan industrialisasi nikel yang terintegrasi, pemerintah meningkatkan hilirisasi nikel dalam negeri yang salah satunya dengan peningkatan jumlah smelter. Pemerintah menargetkan pembangunan 53 smelter hingga 2024 mendatang, di mana pada 2021 terdapat 19 smelter telah berdiri dengan tambahan 4 smelter ditargetkan rampung pada akhir tahun. Pada tahun 2022 dan tahun 2023, Indonesia akan memasuki era hilirisasi sumber daya alam.

Bicara mengenai hilirisasi mineral, patut untuk diketahui terlebih dahulu apa saja yang menjadi kegiatan pokok dalam usaha mineral dan batubara (minerba). Beberapa diantaranya ialah; pertama, kegiatan penambangan (mining), kemudian peleburan (smelting), dan terakhir adalah pemurnian. Dari ketiga kegiatan pokok tersebut, yang berada pada sektor hulu dalam usaha mineral batubara adalah aktifitas penambangan, sedang dua lainnya (Peleburan dan pemurnian) adalah termasuk aktifitas hilir. Sehingga, hilirisasi dimaknai sebagai segala proses peleburan dan pemurnian hasil tambang. Hal tersebut ditandai dengan penghentian ekspor nikel keluar negeri sebagai bahan mentah. Sebaliknya, nikel akan diolah terlebih dahulu di Indonesia sebelum hasilnya nanti akan di ekspor. Tantangan hilirisasi saat ini diantaranya yaitu hampir seluruh produk hasil pengolahan nikel di Indonesia, diekspor keluar negeri sebagai bahan baku industri vital dan strategis yang bernilai ekonomis tinggi.

Maluku Utara merupakan daerah yang masif dengan aktivitas pertambagan dan industrialisasi. Dengan kekayaan alam yang di miliki, tak heran pemerintah pusat lewat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, Maluku Utara masuk dalam kawasan Indsutri Nasional dengan sektor kawasan industry Weda Bay dan Pulau Obi. Ini merupakan hal yang baik bagi pemerintah karena akan sangat berefek pada peningkatan pendapatan daerah, namun di satu sisi menjadi hal yang was-was bagi masyarakat. Pasalnya, sangat potensial memicu pertentangan bahkan konflik sebut saja konflik lahan selain dari menyempitnya ruang produksi bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani serta kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas pertambangan.

Dari kondisi di atas, hal yang paling penting untuk diperhatikan ialah kesejahteraan masyarakat lewat keberlangsungan, percepatan dan pemerataan pembangunan. Sebagai suatu usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana (Maria Ompusunggu; 2018,18), pembangunan dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka tentunya, antara SDA yang melimpah, aktivitas pertambangan dan Industrialisasi seharusnya ditemukan keselarasan dalam wujud nyata pembangunan demi kesejahteraan masyarakat yang merata agar terwujudnya keadilan sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang yakni keadilan sosial.

Potret Sumber Daya Alam dan Problem Pembangunan di Pulau Obi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Halmahera Selatan 2023, Kupulauan obi memiliki luas wilayah sekitar 3.048,08 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2022 sebanyak 52.588 jiwa, terbagi menjadi lima kecamatan dan 34 desa, dengan masing masing; Kecamatan Obi Selatan memiliki luas wilayah 1.083,48 km2 dengan jumlah penduduk 15.940 jiwa meliputi delapan desa; Kecamatan Obi luas wilayahnya 1.073,15 km2 dengan jumlah penduduk 17.561 jiwa, terdiri dari sembilan desa; Kecamatan Obi Timur dengan luas wilayah 636,23 km2 berpenduduk sebanyak 3.924 jiwa, terdiri dari empat desa; Kecamatan Obi Utara memiliki luas wilayah 160,69 km2 dengan jumlah penduduk 9.555 jiwa, terdiri dari tujuh desa; serta Kecamatan Obi Barat dengan luas wilayah 94,53 km2 berpenduduk sebanyak 5.608 jiwa dan meliputi enam desa.

Tak terkecuali, daerah dengan total luas 3.048,08 km2 itu juga memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Sebagaimana terdapat dalam berbagai sumber, Perairan Timur Indonesia, khususnya perairan Pulau Obi, merupakan salah satu perairan yang memiliki produktivitas sangat tinggi. Pasalnya, perairan tersebut merupakan jalur pertemuan antara dua samudera besar, yakni Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Pertemuan antara 2 samudera besar tersebut dinamakan sebagai Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Di perairan Pulau Obi sendiri, ARLINDO melewati bagian utara Obi melalui utara Pulau Bisa, bagian barat Obi, dan bagian selatan melalui selatan Pulau Gamumu. Hal itu yang membuat produktivitas perairan Pulau Obi sangat tinggi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...