ST2023 untuk Kemajuan Pertanian Bangsa

Oleh: Erna Suprihartiningsih, S.ST
(Statisisi Ahli Muda BPS Provinsi Maluku Utara)

Sektor pertanian berperan penting dalam kehidupan, pembangunan dan perekonomian Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, saat pandemi Covid-19 dan ekonomi Indonesia terkontraksi -2,07% pada tahun 2020, sektor pertanian tetap tumbuh positif 1,77%. Pada tahun 2021, pertumbuhan ekonomi sektor pertanian yaitu 1,87%, pada tahun 2022 tumbuh 2,25%. Kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Indonesia 12,40%, di mana sektor ini mampu menyerap 40,69 juta orang atau 29,36% tenaga kerja pada Februari 2023. Sektor pertanian melibatkan hajat hidup orang banyak, sehingga membutuhkan akurasi kebijakan, dan hal tersebut memerlukan akurasi data. Sensus Pertanian 2023 (ST2023) bisa menjadi salah satu upaya untuk menjawab berbagai isu strategis di bidang pertanian.

Sensus Pertanian merupakan amanat Undang-Undang No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik dan rekomendasi dari Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Informasi strategis yang akan dihasilkan ST2023 diantaranya yaitu: direktori pelaku usaha pertanian (by name by address); struktur demografi petani; lahan pertanian menurut penggunaan sampai level desa; geospasial statistik pertanian; volume dan nilai produksi komoditas pertanian; penggunaan teknologi modern pada usaha pertanian; data urban farming, petani milenial; dampak Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI); Penggunaan pupuk dan pestisida; Akses terhadap kredit dan asuransi dll.

Tidak hanya bagi pemerintah, informasi-informasi tersebut juga sangat penting bagi para pelaku usaha pertanian. Petani bisa mengambil keputusan yang tepat dalam mengembangkan bisnis dengan mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada di sektor pertanian. Misalnya, informasi terkait lahan pertanian menurut penggunaan membantu petani mencermati kelebihan dan kekurangan sistem bertani guna optimalisasi proses produksi. Selain itu, Sensus Pertanian memungkinkan penelusuran ketimpangan penguasaan lahan pertanian sampai level desa. Informasi ini bisa melengkapi data-data dari Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (IP4T). Selanjutnya desa-desa dengan tingkat keparahan ketimpangan yang tinggi dapat diusulkan menjadi lokasi prioritas untuk pelaksanaan land reform (perubahan struktur penguasaan pemilikan tanah). Dengan demikian, penguasaan dan pemilikan tanah secara adil dan merata guna meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani dapat terwujud.

Informasi volume dan nilai produksi komoditas pertanian dapat dipakai petani untuk melihat situasi pasar komoditas pertanian. Sebagai contoh, pada saat panen raya biasanya harga jual gabah/beras turun di tingkat petani. Petani sebaiknya tidak terburu-buru menjual seluruh gabah seusai panen, tapi berupaya mengolah padi agar bisa menjadi beras berkualitas bagus. Misalnya, petani bekerjasama dengan pemilik penggilingan padi. Dengan demikian, nilai jual beras bisa lebih wajar dan petani tidak merugi. Selain itu, penerapan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Giling dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras perlu dikawal dengan baik. Hal ini agar harga gabah dari petani akan wajar, sehingga berimbas juga pada harga beras di pedagang hingga pembeli. Informasi volume produksi komoditas pertanian dari ST2023 juga bisa membantu pemerintah memperbaiki pola distribusi komoditas pertanian yang sudah berjalan. Komoditas pertanian dari wilayah lumbung akan tepat tersalurkan ke wilayah yang defisit.

Selanjutnya, pelaku usaha pertanian bisa memanfaatkan informasi terkait penggunaan teknologi pertanian modern sebagai referensi dalam bertani. Misalnya, penggunaan mesin combine hervester untuk membajak sawah dan memanen padi. Petani bisa memanfaatkan waktu dan tenaga lebih efisien untuk mananam dan memanen padi serta mengurangi padi yang tercecer di sawah saat panen. Sementara itu, pemerintah terus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui adopsi mekanisasi modern dan digitalisasi pertanian. Geospasial statistik pertanian dari ST2023 bisa mendukung langkah tersebut. Data pertanian akan dimaknai dengan lebih tajam sesuai dengan posisinya atau letaknya dari setiap petani yang didata termasuk informasi kewilayahannya. Dengan demikian, pembangunan pertanian di hulu, on farm, dan pasca panen bisa lebih cepat dilakukan.

Sementara itu, informasi terkait urban farming bisa dimanfaatkan petani untuk mempertimbangan melakukan diversifikasi usaha pertanian sehingga menambah penghasilan. Pada umumnya urban farming dikerjakan di lahan yang tidak begitu luas, serta memanfaatkan media tanam yang ada di sekitar rumah tangga. Misalnya, bercocok tanam dengan metode hidroponik yaitu menggunakan media tanam berupa air. Sementara itu, pemerintah terus berupaya mengendalikan laju konversi lahan pertanian melalui pemberian bantuan dan insentif bagi petani, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor pertanian, dan penguatan kebijakan di sektor pertanian. Langkah-langkah tersebut tentunya memerlukan dukungan direktori pelaku usaha pertanian (by name by address) serta informasi struktur demografi petani yang akurat.

Petani milenial merupakan regenerasi SDM pertanian. Perkembangan petani milenial perlu diperhatikan agar bisa mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi di bidang pertanian. Pengembangan sumber daya manusianya dan fasilitas yang memadai akan mendorong kemajuan usaha pertanian. Pemerintah melalui program rekruitmen petani milenial diharapkan mampu mendorong regenerasi petani, sehingga petani menjadi profesi yang menjanjikan dan bisa mensejahterakan.

Antisipasi dan mitigasi dampak serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) serta Dampak Perubahan Iklim (DPI) saat ini sangat vital dilakukan untuk mengamankan produksi tanaman pangan. Kegiatan rutin pengamatan secara intensif area pertanian, pencatatan, verifikasi dan pelaporan yang presisi sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk mapping wilayah langganan dampak perubahan iklim maupun hama penyakit tanaman. Selain itu, upaya pengendalian yang ramah lingkungan menggunakan bahan organik dan agen hayati juga perlu digalakkan di kalangan petani untuk pertanian yang berkelanjutan. Penggunaan kimia harus dilaksanakan secara bijaksana dan berdasarkan hasil pengamatan yang valid. Informasi tentang Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) dari hasil ST2023 dapat memperkaya data-data yang sudah ada dan terpelihara sehingga upaya untuk memacu produksi usaha pertanian semakin tepat.

Pedistribusian pupuk bersubsidi yang dinilai belum tepat sasaran masih hangat diperbincangkan. Data penggunaan pupuk dan pestisida serta direktori pelaku usaha pertanian hasil ST2023 bisa menjadi salah satu rujukan pemerintah untuk melakukan reformasi penyaluran subsidi pupuk melalui perbaikan data targeting sehingga lebih efektif dan efisien. Di sisi lain, permasalahan terkait permodalan di kalangan petani kecil juga cukup memprihatikan. Pertanian terasa cukup pelik dilakukan karena membutuhkan modal yang besar dengan hasil yang tidak pasti. Jika sukses, hasilnya bisa menutupi modal dari hutang di bank ataupun dari pinjaman keluarga. Namun jika gagal, hasil pendapatan akan habis untuk menutupi biaya produksi. Biasanya petani pergi ke tengkulak meminjam modal untuk bertani kembali, dan ketika musim panen tiba hasil panen tersebut akan dijual sangat murah ke tengkulak sebagai bayarannya. Oleh karena itu, informasi terkait akses terhadap kredit dan asuransi sangat penting untuk petani. Harapannya, petani akan lebih mudah memperoleh proteksi gagal panen, ganti rugi akibat gagal panen dsb.

Sensus Pertanian 2023 merupakan momentum besar untuk mencatat pertanian Indonesia mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Kolaborasi dan koordinasi dari semua pemangku kepentingan di sektor pertanian mutlak diperlukan untuk menyukseskan ST2023. Hasilnya diharapkan dapat dibagipakaikan dan dipergunakan berbagai pihak secara optimal. Pada akhirnya, upaya memajukan pertanian Indonesia ialah untuk menjadikan Indonesia bangsa yang maju, kuat, bermartabat dan sejahtera.(*)

Opini ini sudah terbit di koran Malut Post edisi, Selasa, 30 Mei 2023.

Komentar

Loading...