Berbekal Takwa Untuk Menggapai Haji Mabrur

Oleh: H. Usman Muhammad
(Ketua MUI Kota Ternate)

Kloter demi kloter jamaah calon haji musim haji tahun 1444H/2023M sudah mulai berangkat menuju tanah suci dengan satu tujuan yaitu, untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima (haji). Jutaan kaum Muslimin yang datang dari seluruh penjuru dunia, dengan beragam suku, bangsa, etnis, bahasa, adat, kultur dan berbagai warna kulit. Mereka segera memadati Al-Haramain yakni kedua kota suci Makkatulmukarramah dan Madinatulmunawwarah untuk melaksanakan ritual-ritual haji.

Menunaikan ibadah haji ke tanah suci merupakan dambaan setiap Muslim, bahkan dijadikannya sebagai suatu cita-cita hidup yang ingin mereka capai sebelum mereka dipanggil oleh Allah SWT, untuk menghadap kehadirat-Nya. Demi meraih cita-cita hidup yang mulia tersebut mereka rela hidup menderita, berhemat, bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menabung sedikit demi sedikit sampai uang mereka cukup untuk membayar segala biaya yang berhubungan dengan perjalanan ibadah haji (BPIH).

Dalam upaya mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut, mereka bersedia mengarungi samudera, berbulan-bulan mereka terkatung-katung di atas lautan lepas seperti pada zaman perahu layar dan kapal api dahulu kala. Ada juga yang rela berjalan kaki melintasi gurun pasir yang panas terik, berjam-jam bahkan belasan jam mereka melintasi udara seperti pada era pesawat terbang sekarang ini, yang tentu kesemuanya itu tidak terlepas dari resiko yang harus dihadapi.

Namun karena tekad mereka telah bulat dan kerinduan mereka untuk bisa bersujud di depan Ka’abah (Baitullah) secara langsung, maka segala konsekuensi maupun resiko serta penderitaan yang mereka alami dalam perjalanan suci ini mereka terima dengan tulus ukhlas, bahkan mereka menganggapnya sebagai bagian dari ibadah suci yang harus mereka jalani, yang telah dijanjikan ganjaran pahala besar dari Allah SWT.

Oleh sebab itu semua penderitaan dan kesengsaraan dalam perjalanan suci itu mereka sambut dengan talbiyah: “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariikalaka labbaika innal hamda wanni’mata laka walmulka laa syariikalaka”. (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu).

Kalimat suci ini mereka kumandangkan berulang-ulang dan bersahut-sahutan sejak mereka memulai berihram dan berjalan menuju Ka’abah (Baitullah). Kalimat talbiyah yang mereka kumandangkan itu adalah sebagai bukti penyerahan diri mereka yang tanpa pamrih kepada Allah SWT, yang telah memberikan kepada mereka kesempatan untuk berkunjung ke Ka’bah (Baitullah) yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun telah menjadi keinginan dan cita-cita hidup mereka.

Dalam rangka untuk tercapainya cita-cita yang mulia tersebut, seorang Muslim yang akan menunaikan ibadah haji harus mempersiapkan diri dengan bekal yang sebaik mungkin. Baik bekal yang bersifat material maupun non material, dan bekal yang paling baik yang harus disiapkan ialah bekal ketakwaan kepada Allah SWT.

Agar ibadah haji yang dilakukan mendapat predikat sebagai haji yang mabrur, maka bekal takwa adalah merupakan suatu keharusan bagi setiap Muslim yang akan menunaikannya, karena dengan bekal takwa seseorang akan mampu memahami serta menterjemahkan simbol-simbol ritual haji yang dilakukannya. Dengan bekal takwa pula seorang Muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji akan dengan ikhlas dan tulus menerima apapun resiko yang ditemui dalam perjalanan suci ini. Dalam Al-Qur’anul Karim Allah SWT, memberikan pesan moral kepada setiap orang yang akan melaksanakan ibadah haji, dengan firman-Nya yang artinya sebagai berikut:

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...