Perdebatan Politik

Oleh: Hamdy M. Zen
(Dosen PBA IAIN Ternate)

Menjadi yang terbaik, merupakan sebuah hal yang didambakan oleh setiap orang. Bahkan di dalam dunia binatang pun, hal ini selalu menjadi rebutan. Hingga akhirnya, lahirlah sebutan “sang raja hutan”, yang pada ujungnya, kemudian lahir pula apa yang dikenal dengan sistem “hukum rimba”.

Terkait dengan persoalan “menjadi yang terbaik” seperti yang disebutkan di atas, orang – orang lantas berusaha semaksimal mungkin, untuk melakukan segala cara, hanya untuk mencapai hal tersebut. Tidak berarti salah dalam hal ini. Hanya saja, jika usaha yang dilakukan melalui jalur – jalur yang justru menyimpang, maka sesungguhnya di sinilah letak permasalahannya.

Saat ini, dinamika seperti ini sudah bukan lagi menjadi hal yang asing. Hal ini, malah telah menjadi sebuah kelumrahan. Saking lumrahnya, orang – orang bahkan dengan entengnya menceritakan hal semacam ini, di tengah – tengah kita, tanpa adanya rasa malu dan justru diceritakan dengan penuh kebanggaan. Hal tersebut, bisa dibuktikan dengan beberapa poadcast – poadcast yang ditampilkan di youtube. Paling banyak ditemukan dalam youtubenya para artis papan atas Indonesia.

Wawancara – wawancara fulgar ditayangkan, sambil tertawa ria, seolah bercanda, mereka para pembawa acara dan narasumbernya, sama – sama berueforia dengan bahan yang justru tidak ada unsur pendidikan di dalamnya. Walaupun mohon maaf, tidak berarti semua yang ditampilkan salah dan tidak bernuansa pendidikan. Ada juga beberapa yang bernuansa pendidikan bahkan islami juga.

Akan tetapi, hampir sebahagian besar, wawancaranya justru mengarah pada hal – hal yang mohon maaf berkonotasi negatif, serta tidak mendidik. Hal semacam ini, menurut penulis, tidak menutup kemungkinan, akan berdampak negatif bagi orang lain, terutama anak – anak. Oleh sebab itu, pencegahan dini, perlu dilakukan oleh pihak – pihak yang berwajib, tak terkecuali orang tua.

Di samping itu, hal – hal serupa, juga terjadi dalam dunia perpolitikan kita. Banyak para politisi, pejabat – pejabat tinggi negara, hingga pengamat politik, tak jarang kita lihat perdebatan di antara mereka yang tersebar luas di berbagai media, justru mempertontonkan hal – hal yang mohon maaf bagi penulis sendiri, bisa dibilang sangat jauh dari harapan. Tidak berarti penulis merasa paling baik dalam hal ini. Hanya saja, perdebatan politik yang ditampilkan, seakan – akan merekalah yang paling baik dan benar.

Pihak yang satu mempertahankan pendapatnya. Yang satunya lagi juga melakukan hal yang sama. Sama – sama mempertahankan pendapatnya. Seolah kita sedang menyaksikan lomba debat, yang diadakan oleh sebuah instansi pendidikan, untuk memperebutkan pemenangnya, di akhir kompetisi nanti. Sehingga yang pro tetap pro dan kontra pun tetap kontra. Sekali lagi mohon maaf, di sini, penulis tidak bermaksud menggurui, apalagi sampai mau menjadi “yang terbaik” dari siapan pun. Namun, yang menjadi masalahnya adalah, mengapa perdebatan – perdebatan seperti ini, harus ada di tengah – tengah kita.

Bukan berarti penulis tidak sepakat dengan perdebatan politik. Tapi setidaknya, sebagai publik figur, harusnya kita memberi contoh yang baik dalam hal ini. Tunjukanlah pada dunia, bahwa perdebatan politik yang kita mainkan adalah perdebatan yang damai. Perdebatan yang saling “mendukung”. Perdebatan yang melahirkan persatuan. Jangan sampai perdebatan kita, justru melahirkan perpecahan yang tidak sebatas lahir di antara kita saja, tapi malah merambat sampai pada masyarakat secara universal. Pada akhirnya, permushanlah yang menjadi endingnya. Na’ujubillah, tsumma na’ujubillah (mari, berlindung pada Allah).

Perdebatan – perdebatan tersebut, bisa jadi lahir hanya karena persoalan “ingin terlihat dan menjadi yang terbaik di mata siapa saja”. Selain itu, bisa pula karena persoalan kepentingan pribadi dan kelompok. Kepentingan – kepentingan seperti ini, merupakan kepentingan yang diada – adakan dalam dunia politik. Sesungghnya, politik tidak menuntut kita, mengarah pada hal itu. Politik justru mengajarkan kita, untuk melakukan yang terbaik, demi kemaslahatan bersama, bukan malah memperpecah – belah bangsa.

Ketika bangsa kita sudah terpecah belah, maka permusuhan di antara kita sudah pasti tak terelakkan lagi. Dan apa bila permusuhan sudah tak terelakan lagi di antara kita, maka strategi – strategi jahat menjadi menu utama dalam bertarung. Fitnah mohon maaf, akan menjadi hal biasa dan ghibah pun bisa jadi hal yang lumrah – lumrah saja. Maka Bahasa – Bahasa hina, mengudara, bagaikan debu yang diterpa angin yang kencang. Di situ, “akan terjadi permainan berbalas pantun dengan nada cacian” di angkasa sana.

Dalam pada itu, sebagai bangsa Indonesia kita harusnya beruntung. Walaupun negara kita adalah negara kepulauan, yang terpisah – pisah antar pulau yang satu dengan pulau yang lain, kita disatukan dengan sebuah semboyan negara, yakni bhinieka tunggal ika. Kita juga punya panca sila. Itulah sebabnya sang proklamor bangsa kita Bung Karno dalam sebuah kesempatan, ia pernah bertanya kepada presiden Yugoslavia waktu itu, kurang lebih seperti ini, “apa yang kau tinggalkan untuk bangsa mu nanti pada beberapa puluh tahun kemudian, ketika kau telah meninggal dunia?

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...