Antrean Haji Mengular, Teladani Nabi Muhammad SAW

Oleh: Biyanto
(Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur)

Jumlah calon jemaah haji (CJH) asal Indonesia tahun ini tergolong yang terbesar sepanjang sejarah. Menurut data resmi Kemenag, total CJH 229.000 orang, termasuk tambahan kuota 8.000 orang. Pada awal keberangkatan musim haji 2023, kuota CJH masih 221.000 orang. Perinciannya, 203.320 kuota haji reguler dan 17.620 kuota haji khusus. Kuota CJH tahun ini berarti naik sangat signifikan dibanding musim haji 2022 yang masih pandemi, yakni 100.051 orang. Perinciannya, 92.925 jemaah haji regular dan 7.226 jemaah haji khusus.

Kenaikan kuota CJH pada tahun ini tentu harus disyukuri. Kenaikan kuota ini diharapkan dapat memangkas daftar antrean CJH. Sebab, daftar antrean CJH di sejumlah provinsi mencapai 30 hingga 45 tahun. Khusus di Jawa Timur, rerata antrean CJH sudah mencapai 35 tahun di setiap kabupaten/kota. Menyikapi semakin mengularnya antrean CJH itu, umat perlu diajak untuk meneladani Nabi Muhammad SAW.

Berdasar fakta sejarah, kita memperoleh penjelasan bahwa Nabi SAW hanya sekali menunaikan ibadah haji. Ibadah haji Nabi itu dilakukan pada tahun ketujuh Hijriah, persis setelah masa penaklukan Kota Makkah. Haji Nabi itu pun dikenal dengan haji perpisahan (wada’). Itulah haji pertama dan terakhir Nabi sepanjang masa kenabiannya. Teladan Nabi ini penting terus digelorakan agar tumbuh kesadaran di kalangan umat, terutama mereka yang telah berangkat haji berkali-kali.
Memang tidak mudah memahamkan umat bahwa kewajiban ibadah haji itu cukup sekali.

Sebab, ibadah haji selalu memberikan pengalaman keagamaan yang mendalam. Apalagi, Allah SWT memanggil jemaah haji dengan sebutan yang sangat menyentuh hati nurani, yakni tamu Allah (wafdullah). Dengan panggilan itu berarti Allah yang akan menjadi tuan rumah. Karena itu, dikatakan, jemaah haji berkunjung ke rumah Allah (Baitullah, Kakbah). Sebagai tuan rumah, Allah pasti akan menyambut, menjamu, dan memberikan rasa aman bagi jemaah haji.

Dalam beberapa hadis, Nabi Muhammad juga menjelaskan keutamaan ibadah haji. Misalnya, Nabi bersabda bahwa haji yang mabrur itu pahalanya tiada lain kecuali surga. Disebutkan pula, pahala orang berhaji sama dengan berjihad di jalan Allah. Juga dikemukakan bahwa doa yang dipanjatkan jemaah haji pasti akan dikabulkan Allah. Karena janji yang diberikan Allah dan Rasulullah begitu rupa, motivasi umat untuk menjalankan ibadah haji terus bergelora.

Pengalaman rohani yang diperoleh setiap jemaah haji juga selalu menghadirkan semangat untuk kembali menjadi tamu Allah. Setiap orang yang pernah menjadi tamu Allah pasti teringat saat melaksanakan prosesi ibadah haji. Senantiasa terbayang tatkala mengelilingi Kakbah (tawaf), berjalan mondar-mandir antara Bukit Shafa dan Marwa (sai), berkumpul di Padang Arafah (wukuf), bermalam (mabit) di Muzdalifah dan Mina, melontar dengan batu-batu kecil (jumrah), menggunting atau mencukur rambut (tahalul), serta mencium batu hitam (Hajar Aswad).

Jemaah laki-laki diharuskan berpakaian yang tidak berjahit, alas kaki tidak boleh menutup mata kaki, dan apabila pakaian ihram telah dikenakan tidak boleh berhias. Bersisir, menggunting kuku, dan mencabut bulu, apabila dilakukan saat berpakaian ihram, akan dikenai denda. Terlebih jika bercumbu, membunuh binatang, dan mencabut tanaman. Berkata atau berpikiran kotor (rafats), berbuat tercela (fasiq), dan bertengkar (jidal) benar-benar ditekankan kepada tamu-tamu Allah untuk dijauhi selama pelaksanaan ibadah haji.

Jika diamati secara saksama, prosesi ibadah haji laksana sebuah pertunjukan. Pandangan ini dikemukakan tokoh revolusioner Iran Ali Shariati (1933–1977) dalam karya berjudul Hajj (2007). Pernyataan Shariati jelas tidak berlebihan jika kita memperhatikan protokoler ibadah haji. Pelaksanaan rukun Islam kelima itu memang laksana sebuah pertunjukan. Tetapi bukan pertunjukan biasa, melainkan pertunjukan akbar karena melibatkan jutaan orang.

Jutaan jemaah terlibat dalam pertunjukan akbar tersebut. Dikatakan Ali Shariati, dalam pertunjukan akbar itu, Allah langsung bertindak sebagai sutradara. Tokoh-tokoh yang harus diperankan adalah Adam, Ibrahim, Hajar, Ismail, dan setan. Lokasi utamanya di sekitar Masjidilharam, Masjid Nabawi, Tanah Haram, Kakbah, Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, Mina, dan tempat-tempat bersejarah yang selalu diziarahi jemaah haji. Terakhir, kata Ali Shariati, pemain utamanya adalah setiap jemaah haji itu sendiri. Para tamu Allah inilah yang akan memerankan karakter dari figur utama Adam, Ibrahim, Hajar, Ismail, dan setan.

Modal ketakwaan itulah yang akan menjamin setiap jemaah dapat meneladani karakter tokoh yang diperankannya. Di samping itu, modal ketakwaan juga sangat penting untuk menata niat agar ibadah hajinya diterima Allah. Rangkaian ibadah haji itu jelas memberikan pengalaman rohani yang tak terlupakan bagi orang yang sudah berhaji. Bahkan, tatkala melakukan rangkaian ibadah haji, banyak jemaah yang menitikkan air mata sebagai bentuk rasa syukur karena diundang sebagai tamu Allah.

Karena itulah, kerinduan untuk melakukan perjalanan spiritual ke Tanah Suci terus menggelora di kalangan umat Islam. Tetapi, penting diingat, kini ada jutaan orang yang sedang mengantre untuk diundang sebagai tamu Allah. Pesan pentingnya, bagi yang sudah berhaji, harus menahan ego spiritualnya untuk memberikan kesempatan kepada saudaranya. Bukankah Nabi telah memberikan teladan bahwa berhaji itu cukup sekali? (*)

Opini ini sudah terbit di koran Malut Post edisi, Kamis 6 Juli 2023.

Komentar

Loading...