Sirih dan Pinang dalam Kehidupan Sosial

Oleh: Risto Sangaji

(Penggiat Lipu Literasi)

-----------

Tidak hanya rokok, kopi atau teh manis—penyambut pagi, siang atau sore hari. Menu penyambut sehari-hari bumiputra Taliabu selain dari itu, ialah sirih dan pinang.

Sirih dan pinang sudah semacam menu wajib bagi masyarakat jika sedang lapar atau dahaga. Selain di rumah atau tempat-tempat santai, pada acara perkawinan atau rumah duka pun sirih dan pinang sebagai menu penyambut seperti rokok, kopi dan teh manis.

Kebiasaan makan sirih dan pinang sudah ada berabad-abad silam, dan masih melekat di masyarakat hingga sekarang. Masyarakat menganggap bahwa budaya makan sirih dan pinang selain dari memperkuat gigi, menghilangkan rasa lapar dan dahaga, juga meningkatkan hubungan sosial pada masyarakat.

Misalnya di kampung saya, Desa Kawalo, Taliabu Barat. Suatu pagi ketika saya bertandang ke rumah keluarga, sirih dan pinang ada di meja dan sudut rumah.

Pun di rumah itu, ada kelompok ibu-ibu yang saban hari duduk di tempat santai sambil mengunyah sirih dan pinang;  bercerita sambil tertawa. Jika dilihat keseharian mereka, sirih dan pinang merupakan hakikat sopan-santun dan keramah-tamahan dalam hubungan.

Di dalam pergaulan sosial, kedudukan sirih dan pinang setara dengan rokok, kopi dan teh manis. Kalau lagi berkunjung ke tempat-tempat acara, misalnya perkawinan atau hajatan lainya, masyarakat selalu mengunyah sirih dan pinang.

Juga pada saat menerimah tamu di rumah. Makan sirih dan pinang pun bagi mereka selain dari meningkatkan hubungan sosial, juga adalah menghargai identitas kemalukuan.

Baca halaman selanjutnya...

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...