Tambang; Kado Istimewa Atau MalaPetaka?

Oleh: M. Darajati Duwila
(Wasek PDPP HMI Cabang Ternate)

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang begitu melimpah, berupa gas alam, minyak bumi, emas, timah, tembaga, batubara, dan besi. Sumber daya alam ini apabila di manfaatkan dengan baik sesuai kebutuhan manusia, maka tidak akan membawah malapetaka. Hal ini kiranya indonesia memilki kekayaan SDA yang melimpah sehingga daratan kami di kepung oleh berbagai perusahan pertambangan. Bisa dilihat menurut data badan pusat statistik (BPS) mencatat, ada 131.414 perusahaan di sektor perdagangan di Indonesia pada 2021. Jumlah tersebut meningkat 1,76% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 129.137 perusahaan.

Banyaknya berbagai pertambangan sesuai data BPS yang dimiliki oleh bangsa indonesia, pada tujuan pertambangan untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Olehnya itu kita bisa mengetahu kehadiran pertambangan dapat memberikan pemasukan yang begitu basar demi menopang hajat hidup kemakmuran rakyat. Berdasarkan ketegasan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33 Ayat 3 yang berbunyi; Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai negara dan di pergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sebagaimana yang tercantum menunjukan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa indonesia harus di kelola sebaik-baik mungkin dan dipastikan agar segala kekayaan sumber daya alam dapat di peruntukkan demi kepentingan kesejahteraan rakyat.

Namun, kemudian muncul pertanyaan, apakah kehadiran tambang sebagai solusi? Tentunya tidak! Adapun pada sektor ekonomi bahwa, pertambangan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah dan membuka lapangan pekerjaan bagi pera pekerja. Akan tetapi, ketika mengukur dari dampak positif dan negatif, maka bisa dilihat situasi dan kondisi bangsa indonesia bahwa kehadiran tambang sesuai penjelasan UUD di atas tidak menemukan yang namanya kemakmuran bagi masyarakat, tetapi yang dirasakan ialah kerusakan lingkungan, polusi, peredaran limbah, dan gangguan kesehatan.

Permasalahan pertambangan merupakan masalah paling serius bagi kondisi lingkungan, terutama lingkungan yang ditempatih oleh masyarakat, sebab pada esensinya manusia hidup sangat bergantungan dengan alam, entah itu di daratan maupun lautan. Adapun juga sesama makhluk hidup mulai dari hewan tumbuhan dan manusia saling bergantungan dan saling melengkapi. Namun, atas dasar kebijakan pemerintahan menghadirkan pertambangan semua ruang hidup masyarakat tereliminasi.

Dalam artian, sudah pasti kehadiran pertambangan akan mengakibatkan kerusakan  seluruh ekosistem yang ada bahkan, banyak kehadiran tambang yang membawa insiden malapetaka bagi masyarakat. Hal ini, juga sejalan dengan perkataan Sudiyarti et al., (2021), dampak negatif yang timbul dari adanya kegiatan pertambangan emas rakyat yaitu, keikut sertaan masyarakat dalam kegiatan sosial desa mulai berkurang, menimbulkan kerusakan lingkungan berupa kerusakan tanah, air, dan kerusakan hutan.

Selain itu, kegiatan pertambangan juga akan menimbulkan gangguan kesehatan. Hal ini terjadi karena pembuangan limbah dari kegiatan penambangan emas secara sembarangan, padahal kita ketahui bersama bahwa limbah dari sisa penambangan emas itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Limbah tersebut mengandung belerang (b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg dan Pb merupakan logam berat yang dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit kulit, ganguan syaraf sensori paraesthesia, kepekaan menurun dan sulit menggerakkan jari tangan dan kaki, pengliatan menyempit, daya pendengaran menurun, serta rasa nyeri pada lengan dan paha, ganguan syaraf motorik, lemah sulit berdiri, mudah jatuh dan ataksia tremor, gerakan lambat dan sulit bicara, gangguan lain gangguan mental sakit kepala dan hipersalivas dan lain sebagainya.

Kondisi pertambangan di Indonesia selalu menjadi ricuh bagi masyarakat, apalagi yang melibatkan diri bekerja pada perusahan pertambangan, akan berhadapan langsung dengan sistem kerja yang di pakai oleh tenaga kerja asing untuk mengakomudir pekerja lokal bersifat paksa. Dan juga tergambar semua rangkaian kejadian kecelakaan berupa kematian dalam dunia pertambangan sangat kejam dan begitu ekstrim pada kejadian kematian tersebut, tidak bisa kita fikirkan atau bayangkan betapa kejadian itu. situasi seperti inilah yang ditakuti oleh masyarak Desa Kou ketika pertambangan masuk maka budaya atau adat meraka pun tergeser dan hilang tanpa ada sedikit jejak yang tersisah.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...