Refleksi 5 Tahun Yayasan ‘The Tebings’ Maluku Utara, dari Diskusi hingga Acara Budaya

Ketua Dewan Pembina Yayasan The Tebings, Dr. M Ridha Ajam, M.Hum saat membuka acara peringatan HUT ke-5 Yayasan The Tebings di Benteng Orange, Jumat (17/11/2023)

Ternate, malutpost.id -- Yayasan 'The Tebings' Maluku Utara memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-5, yang berlangsung di Benteng Orange. Peringatan HUT kali ini dilakukan selama 2 hari dimuali pada Sabtu dan Minggu (17-18/2023).

Acara bertemakan "Merawat Kebudayaan Dalam Simpul Budaya" itu, menghadirkan beberapa narasumber yang membahas tentang kebudayaan Maluku Utara di antaranya, Herman Usman (akademisi), Perwakilan Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Abdurrahman Soleman (komunitas) dan Faris Bobero (jurnalis).

Ketua Dewan Pembina Yayasan The Tebings, Dr. M Ridha Ajam, M.Hum mengatakan, terselenggaranya acara tersebut diharapkan tidak hanya memperkenalkan yayasan, namun semua aktifitas yayasan khususnya di bidang kebudayaan dan kemanusiaan bisa menjadi referensi untuk pembicaraan kebudayaan.

"Yayasan yang representatif dan sudah diakui oleh kementrian sosial ini, menjadi salah satu yayasan yang bisa di jadikan sebagai referensi untuk kita bicara soal kebudayaan, soal kemanusiaan dan bisa bekerja sama dengan siapa saja," kata Dr. M Ridha Ajam, Jumat (17/11/2023) malam.

Ia menyebut, di usia yang ke-5 tahun 'The Tebings' juga sudah berhasil mengusulkan dua Pahlawan Nasional Maluku Utara yaitu Sultan Babullah dan Salahuddin Bin Talabudin.

Lanjut Ridha, saat ini pihaknya juga tengah mengusulkan dua tokoh pejuang lagi yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional yakni, Zainal Abidin Syah dan Banau Bin Alum.

"Dua tokoh sementara lagi dalam persiapan dokumen naskah akademiknya," ungkap Ridha Ajam.

Rektor Universitas Khairun Ternate itu menceritakan, awal mula dibentuknya 'The Tebings' dimulai dari diskusi santai dirinya bersama beberapa rekan dosen.

Dari situ, akhirnya diputuskan membentuk yayasan dan dipilih nama 'The Tebings'. Nama ini merujuk pada rumah yang berada di atas tebing yang menjadi tempat diskusi para dosen dan melahirkan berbagai ide dan gagasan.

"Akhirnya nama tebing kita tambahkan 'The' dalam bahasa Inggris dan 'S' dalam akhiran kata Tebings, supaya kedengeran seperti bahasa Inggris," jelas Ridha.

"Nah ketika bicara filosofinya, tebing itu ketika kita mencapai sebuah puncak maka butuh perjuangan keras. Harus menghadapi begitu banyak tentangan, sebab untuk capai ke sebuah tujuan tidak ada yang berleha-leha kecuali berjuang. Nah itu filosofi tebings," tambah dia.

Sementara kegiatan hari pertama dimulai dengan pembuatan Tuala Lipa dan Musik Yanger dari Komunitas Falamuda. Sedangkan, pada hari kedua akan diisi dengan acara Sanggar Gamalama, Stand Up Comedy, Corner Projek serta kegiatan lainnya. (mg-12/adv)

Komentar

Loading...