Akhiri Gimik Politik

SUGENG WINARNO

Oleh: Sugeng Winarno
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Alumnus Jurusan Media and Information Curtin University of Technology Australia)

Masa kampanye pemilu diwarnai munculnya beragam gimik (gimmick) politik. Gimik politik sering kali bersifat spektakuler, lucu, atau dramatis. Gimik bertujuan untuk menciptakan citra positif, menarik atensi, atau mengalihkan perhatian dari isu-isu yang esensial. Kampanye dengan permainan gimik hanya akan menenggelamkan pertarungan gagasan yang konstruktif.

Penggunaan gimik politik biasanya sebagai upaya manipulatif untuk menarik perhatian tanpa memberikan substansi yang nyata atau solusi konkret terhadap isu-isu yang dihadapi masyarakat. Sebenarnya gimik politik yang terlalu mencolok atau palsu juga dapat merugikan citra seorang politikus. Karena bisa dianggap tidak serius dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Kampanye dengan tebar gimik politik yang bersifat kontroversial juga dapat meningkatkan polarisasi politik. Strategi kampanye semacam ini cenderung membagi masyarakat menjadi kubu-kubu yang berseberangan, mengorbankan kesatuan dan kerja sama yang diperlukan untuk mencapai solusi yang efektif.
Alih-alih mengandalkan gimik politik, akan lebih baik jika kampanye diisi dengan menampilkan gagasan yang substantif dan mendidik. Perang ide, gagasan, dan tawaran solutif atas beragam permasalahan bangsa sangat dinanti oleh masyarakat.

Gimik Pemikat Massa
Dalam dunia hiburan, seperti di televisi, gimik sering digunakan para kreator program untuk merebut perhatian pemirsa. Gimik itu setingan, trik, dan rekayasa untuk menampilkan citra tertentu yang diharapkan. Melalui adegan khusus, dandanan yang khas, musik, yel-yel, nyanyian, tarian, tata panggung, tata suara, lighting, dan beragam visual pendukung bisa jadi gimik yang mendukung kesuksesan sebuah acara.

Dalam kampanye politik ternyata konsep penggunaan gimik layaknya dalam television show juga dilakukan. Sejumlah politikus yang ikut berkontestasi dalam pemilihan umum presiden (pilpres) dan pemilihan umum legislatif (pileg) menggunakan gimik sebagai strategi memikat massa. Aneka gimik tersebut selanjutnya mendapat liputan media massa dan viral di beragam platform media sosial. Situasi itu menjadikan gimik politik justru dinilai sebagai model kampanye yang tepat dan memikat.

Lewat beragam permainan gimik, bisa jadi sang politisi sedang memainkan agenda tersembunyi (hidden agenda) tertentu yang coba mau disuntikkan ke masyarakat. Untuk itu, masyarakat harus tetap kritis. Kemampuan untuk menyadari bahwa gimik sejatinya hanyalah tipuan belaka menjadi penting dipunya.
Gimik politik memang dapat digunakan untuk menjadikan komunikasi bisa mencair. Kesan menakutkan pada diri sang politisi dan pesan politik itu sendiri bisa ditepis. Pesan-pesan komunikasi yang disampaikan akan lebih muda diterima. Hambatan komunikasi berupa situasi kaku bisa jadi melunak. Namun, penggunaan gimik dapat menimbulkan kesan tak serius dan hanya main-main belaka.

Setiap kontestan politik memang mempunyai gaya komunikasi politik yang berbeda. Gaya komunikasi beberapa politikus ada yang menggunakan komunikasi politik konteks tinggi (high context) dan komunikasi politik konteks rendah (low context). Komunikasi politik konteks rendah bisa terlihat dari gaya penyampaian pesan komunikasi yang lugas, mudah dimengerti, dan maknanya tak bersayap. Sementara komunikasi konteks tinggi bisa tampak dari penggunaan kata-kata bersayap, menggunakan bahasa tubuh yang tak jelas, dan bahasa verbal yang tak langsung ke inti permasalahan.

Budaya Wadah
Mengutip pernyataan seorang penulis dan jurnalis Uruguay Eduardo Galeano yang menyatakan tentang munculnya budaya wadah. Menurut Galeano, kita hidup di dunia ketika pemakaman lebih penting daripada kematian, pernikahan lebih penting ketimbang cinta, dan fisik lebih penting daripada kecerdasan. Kita hidup dalam budaya wadah yang meremehkan isi. Dunia maya dan dunia nyata ditaburi jargon-jargon penuh gimik.

Lahirnya budaya wadah sebenarnya dapat memicu sang politisi berpikir dangkal. Tak jarang mereka hanya menonjolkan unsur kesenangan dan hiburan. Situasinya klop karena ternyata tak sedikit masyarakat yang menyukai penggunaan aneka gimik ini.

Jika masyarakat merasa bahwa sang politisi lebih fokus pada citra atau gimik daripada substansi ide, gagasan, dan kebijakan, hal itu dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan pemilih terhadap sang politisi. Politisi yang terlalu mengandalkan gimik tanpa memberikan solusi konkret bisa kehilangan kredibilitas di mata pemilih yang sedang mencari pemimpin yang serius dan dapat diandalkan.

Gimik politik lewat beragam narasi dan konten kampanye yang hanya memburu viralitas seperti pembuatan meme atau video singkat untuk mendapatkan perhatian tanpa memberikan informasi mendalam hanya akan menjadikan masyarakat keliru dalam memilih pemimpin. Kampanye dengan mengedepankan permainan gimik politik sejatinya justru dapat merendahkan sosok sang politisi di mata rakyat.

Untuk itu, format kampanye model debat publik yang terbuka dan demokratis perlu diselenggarakan dalam porsi yang cukup. Semakin masyarakat dapat ”menguliti” calon pemimpin yang akan dipilihnya, mereka akan punya referensi yang akurat tentang sosok pemimpin yang bakal dititipi amanahnya. Kampanye lewat permainan gimik lucu-lucuan yang miskin substansi hanya akan menjerumuskan masyarakat merasakan penyesalan kelak.

Era politik yang serupa panggung sandiwara saat ini menuntut semua orang agar pandai bermain peran. Lewat permainan gimik politik, bisa jadi sang politisi yang selama ini serius dan kaku bisa terkesan lebih lentur dan mencair. Aneka gimik politik terkadang memang diperlukan guna mencairkan suasana. Namun, untuk urusan mengelola negara besar dan menyejahterakan rakyat, tentu tak bisa hanya dengan mengandalkan permainan gimik semata. (*)

Opini ini sudah terbit di Koran Malut Post edisi, Rabu 6 Desember 2023

Komentar

Loading...