[PREBUNKING] Penjelasan KPU Soal KPPS Berpotensi Alihkan Suara saat Jeda Makan Siang

WhatsApp Image 2024 02 12 at 23.03.16 e1707746655486
Tangkapan layar status kecurangan pemilu yang tersebar di grup WA.

BERITA

Beredar pesan dan pemasangan story di aplikasi WhatsApp yang menyebutkan praktik curang yang terjadi biasanya dilakukan oleh petugas KPPS yang ditawari uang agar mau mentransfer perolehan suara caleg yang tak punya saksi di TPS. Pesan dalam bentuk tangkapan layar story WA itu beredar pada, Minggu (11/2/2024) oleh akun WA atas nama 7AGUAR00 dengan caption “Ikhtiar saja…insyaallah berjalan lancar”.

Berikut narasi yang disebarkan bersama informasi tersebut:

Praktik curang biasanya terjadi biasanya petugas KPPS ditawari uang agar mau ‘mentransfer perolehan suara’ dari caleg yang tak punya saksi di TPS.

“Jadi caleg yang tidak punya saksi itu berpotensi mengalami pengurangan atau pengalihan suara ke calon yang menguasai TPS itu dan diperkuat adanya pemberian uang, namun tenag saja karena saat ini polri juga sudah berupaya untuk menhaga kejahatan dan modus dan cara busuk tersebut.

Kemudian tangkapan layar kedua tertulis:

Potensi penggelembungan suara saat jeda istirahat

Jeda istirahat

Jeda istirahat makan siang menjadi waktu paling rawan terjadi kecurangan berupa penggelmbungan suara.

Di waktu yang cukup panjang itu TPS tak ada yang mengawasi. Para saksi pun biasanya karena ada jam istirahat. Disitulah surat suara yang lebih bisa dicoblos untuk kepentingan pihak tertentu.

#CR7

HASIL CEK FAKTA

Malutpost.id mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut ke Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, M Zen Karim. Ketua KPU itu menegaskan, informasi tersebut tidak benar alias hoaks.

"Pertama KPU meminta masyarakat jangan mempercaya informasi-informasi yang membuat masyarakat bingung, kalau ada hal yang tidak dimengerti mesti ditanyakan ke KPU atau penyelenggara lainnya, kalau informasi si A mentransfer suara ke si B itu akan sulit dilakukan dan tidak mungkin karena kita menggunakan sistem rekapitulasi online atau SIREKAP sehingga pasca rekapitulasi di tingkat TPS plano hasil di TPS itu difoto oleh semua yang ada baik KPPS, saksi, pengawas sehingga potensi itu sulit dilakukan,”terang M Zen, Senin (12/2/2024).

Dia menjelaskan, bahkan jika ada perbedaan rekapitulasi di tingkat kecamatan berbeda maka, petugas akan membuka kotak suara kembali di tingkat TPS.

“Proses mentransfer suara itu tidak ada ruang,”tegas dia.

Soal potensi penggelembungan suara di waktu jeda makan, M Zen Karim menegaskan, seluruh petugas KPPS tidak dibenarkan makan di luar TPS, petugas hanya diberi kesempatan melaksanakan salat tetapi dilakukan secara bergantian. Selain itu, lanjut dia, TPS juga dijaga ketat oleh Linmas dan TNI-Polri yang ditugaskan di semua TPS.

“Kecuali salat itu bergantian, tapi kalau makan minum semua di dalam karena makan minum mereka sudah disiapkan, jadi hanya ada istirahat salat, makan dan ke toilet, mereka juga dibantu aparat dan 2 orang Linmas,”tandas M Zen.

Sementara Ketua KPU Malut, Pudja Sutamat menuturkan, TPS tidak bisa ditinggalkan dan tetap terjaga oleh penyelenggara, maupun pengawas dan saksi, termasuk kelompok pemantau.

"Istirahat makan diupayakan di tempat. Dalam kondisi ini dibutuhkan kerja sama dalam menjaga keberlangsungan penyelenggaraan di TPS agar tidak terjadi penyimpangan,"jelas Pudja.

KESIMPULAN

Informasi mengenai penggelembungan suara dan transfer suara antarcalon adalah tidak benar atau hoaks serta tidak bisa dilakukan. Petugas KPPS juga mendapat pembekalan serta buku paduan KPPS pemilihan umum dan kepala daerah. (ikh)

Komentar

Loading...