Malutpost.id, Sebuah peristiwa mencekam yang nyaris merenggut nyawa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, terjadi saat pelaksanaan salat Idul Adha pada 10 Zulhijah 1381 H atau bertepatan dengan 14 Mei 1962. Insiden dramatis ini berlangsung di lapangan Istana Merdeka, Jakarta, ketika sang proklamator sedang khusyuk menunaikan ibadah.
Suara letusan senjata api tiba-tiba memecah keheningan di antara ribuan jemaah yang sedang dalam posisi rukuk. Dentuman peluru itu sontak membuat barisan jemaah salat, termasuk Soekarno dan sejumlah menteri, panik dan berhamburan. Berdasarkan catatan yang dikutip dari situs resmi PDI Perjuangan Jawa Timur, tembakan pertama melesat, namun luput dari sasaran utama. Ironisnya, peluru itu justru mengenai Zainul Arifin, Ketua DPRGR yang saat itu bertindak sebagai imam salat.

Dalam buku "Detik-detik Paling Menegangkan" yang ditulis Moehammad Goenawan pada tahun 2015, disebutkan bahwa Zainul Arifin terluka akibat tembakan tersebut. Para pengawal dengan sigap segera membentuk barikade untuk melindungi Bung Karno. Namun, tembakan kedua kembali dilepaskan. Amoen, salah seorang pengawal yang berani menjadikan tubuhnya tameng hidup bagi Presiden, tertembak di bagian dada.
Tak berhenti di situ, tembakan ketiga menyusul, kali ini menyerempet kepala Soesilo, pengawal lainnya. Meski terluka, Soesilo dengan gagah berani menerjang sang penembak, dibantu oleh dua pengawal lain. Beruntung, Amoen dan Soesilo, meskipun menderita luka serius, pada akhirnya selamat dari insiden berdarah tersebut.
Peristiwa penembakan ini terjadi dari jarak yang sangat dekat. Wakil Komandan Tjakrabirawa, H. Maulwi Saelan, dalam autobiografinya "Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66", mengungkapkan bahwa posisi penembak hanya berjarak empat shaf dari Bung Karno. Maulwi Saelan, yang juga pernah menjadi kiper Timnas Sepakbola Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956, menceritakan pengakuan penembak. "Ketika diperiksa, penembak mengaku melihat Bung Karno yang dibidiknya ada dua orang. Maka bingunglah ia hendak menembak yang mana," tulis Maulwi.
Insiden Idul Adha yang menggemparkan ini menjadi titik balik penting dalam sejarah pengamanan presiden di Indonesia. Jenderal Abdul Haris Nasution, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan Negara, segera mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk membentuk sebuah resimen kawal khusus. Resimen ini bertugas menjaga keselamatan dan keamanan pribadi presiden beserta keluarganya secara eksklusif.
Usulan tersebut disambut baik dan disetujui oleh Soekarno. Lahirlah Resimen Tjakrabirawa, sebuah pasukan elite yang terdiri dari prajurit-prajurit terbaik dari empat angkatan TNI: Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian. Nama "Tjakrabirawa" sendiri diambil dari nama senjata tokoh pewayangan Kresna, yang dalam bahasa Sansekerta berarti "lingkaran dahsyat". Maulwi Saelan kemudian ditugaskan untuk membentuk resimen ini, sebuah pengalaman yang ia sebut mengubah jalan hidupnya. "Peristiwa Idul Adha ini kelak mengubah jalan hidup saya. Karena dengan alasan itu, saya dipindahkan dari Makassar ke Jakarta untuk membentuk Resimen Tjakrabirawa," kenang Maulwi. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa krusialnya pengamanan kepala negara, yang kemudian melahirkan satuan pengamanan presiden yang kita kenal hingga kini.

