Malutpost.id, Jakarta – Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan bahwa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia. Bencana ini, menurutnya, mengungkap adanya kesalahan mendasar dalam pengelolaan lingkungan yang selama ini berjalan.
Raja Juli Antoni menekankan pentingnya momentum ini untuk memperbaiki kebijakan yang ada. "Kita mendapatkan momentum yang baik justru karena semua mata melihat, semua telinga mendengar, semua kita merasakan apa yang terjadi. Mudah-mudahan tidak melebar ke wilayah lain," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/11). Hal ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait dampak penebangan liar terhadap bencana.

Menhut juga menyampaikan duka mendalam atas kejadian ini, namun menekankan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi kebijakan yang selama ini cenderung berorientasi pada ekonomi. Ia menegaskan bahwa keseimbangan antara ekonomi dan ekologi harus dikembalikan, sebagaimana yang telah dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
Dalam kunjungannya ke Riau, Raja Juli Antoni menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya melakukan evaluasi, tetapi juga mengambil langkah konkret. Salah satunya adalah dengan menyerahkan Surat Keputusan (SK) Hutan Adat di Kuantan Singingi sebagai bentuk penguatan hak masyarakat adat. Menurutnya, masyarakat adat selama ini terpinggirkan, padahal mereka adalah kelompok yang paling mampu menjaga hutan. Legalisasi ini memberikan mereka ruang untuk berkontribusi dalam pelestarian hutan.
Selain itu, Raja Juli Antoni juga meninjau Taman Nasional Tesso Nilo yang terus melakukan restorasi untuk memastikan habitat Gajah Sumatra tidak terganggu. Langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan di Riau akan diterapkan juga di wilayah lain yang terdampak bencana.
"Kedatangan saya dua hari ke Riau ini menjadi contoh apa yang kita kerjakan di tempat lain, termasuk di Sumatera Barat kita evaluasi di Sumatera Utara, Aceh dan daerah lain," pungkasnya.
Banjir bandang telah merendam puluhan kabupaten dan kota di tiga provinsi di Sumatra, yaitu Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. BNPB mencatat total korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor mencapai 303 orang hingga Sabtu (29/11) sore, dengan jumlah korban terbanyak berasal dari Sumatera Utara.

