Malutpost.id, Jakarta – Sebuah terobosan diplomatik dan capaian bersejarah bagi Indonesia. Negara ini kini resmi memiliki aset properti berupa hotel di Arab Saudi, menandai dimulainya proyek ambisius Kampung Haji. Pengumuman penting ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara Retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (6/1) lalu.
Prasetyo Hadi menegaskan bahwa kepemilikan aset ini merupakan buah diplomasi nyata dari pemerintahan saat ini. "Ini adalah keberhasilan pemerintah Republik Indonesia untuk pertama kalinya kita bisa memiliki Kampung Haji di Arab," ujarnya, menyoroti pentingnya pencapaian ini bagi pelayanan jemaah haji Indonesia di masa mendatang. Ia menambahkan bahwa terobosan ini dimungkinkan setelah Kerajaan Arab Saudi mengubah aturan kepemilikan properti bagi negara asing.

Perubahan regulasi di Arab Saudi menjadi kunci utama. Mensesneg menjelaskan bahwa pemerintah Saudi kini telah mengesahkan undang-undang yang memperbolehkan pihak non-Saudi memiliki tanah dan properti di wilayah mereka. Aturan baru ini, yang diwartakan Saudi Gazette disahkan pada Juli tahun lalu, menggantikan keputusan kerajaan sebelumnya dari tahun 2000. Sistem baru ini memberikan hak kepada individu, perusahaan, dan entitas nirlaba non-Saudi untuk memiliki properti atau memperoleh hak-hak nyata lainnya di zona geografis yang ditentukan.
Meski demikian, terdapat batasan dan kondisi tertentu. Kepemilikan tetap dilarang di lokasi dan wilayah tertentu, terutama di Mekkah dan Madinah, kecuali dalam kondisi khusus untuk pemilik Muslim perorangan. Selain itu, misi diplomatik dan organisasi internasional juga dapat memiliki tempat untuk penggunaan resmi dan tempat tinggal perwakilan mereka, dengan persetujuan Kementerian Luar Negeri dan syarat timbal balik.
Proyek ambisius ini dipimpin oleh CEO BPI Danantara, Rosan, yang berhasil memenangkan tender untuk mendapatkan area Kampung Haji tersebut. Danantara Indonesia telah menyiapkan investasi fantastis senilai US$800 juta atau sekitar Rp13,34 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.680 per dolar AS) untuk membangun 13 menara hotel dan sebuah pusat perbelanjaan (mal).
Saat ini, Indonesia telah mengakuisisi Novotel Makkah Thakher City, yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Hotel ini terdiri dari 3 menara dengan total 1.461 kamar, mampu menampung 4.383 jemaah haji Indonesia. Dengan rencana penambahan 13 menara baru, total kapasitas kamar akan meningkat drastis menjadi 6.025 kamar, yang diperkirakan dapat menampung hingga 23.000 jemaah. Selain Novotel, Indonesia juga membeli lahan seluas 5 hektare di depan hotel tersebut untuk pengembangan lebih lanjut berupa hotel dan mal baru.
"Saya kira itu menjadi salah satu kado bagi bangsa Indonesia dan bagi umat Islam khususnya," pungkas Prasetyo, menekankan bahwa kepemilikan aset ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan efisiensi penyelenggaraan ibadah haji di Tanah Suci.

