Malutpost.id, Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti secara mendalam dinamika perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. SBY melihat bahwa banyak pihak, terutama negara-negara di kawasan Timur Tengah, menanti dengan cemas hasil dari negosiasi yang sedang berlangsung ini, yang berpotensi menentukan arah stabilitas regional.
SBY mengakui bahwa proses negosiasi, khususnya yang menyangkut masa depan program nuklir Iran, merupakan tantangan yang sangat kompleks dan bukan perkara sederhana untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Perbedaan kepentingan fundamental antara Washington dan Teheran menjadi penghalang utama. Ia juga mencatat bahwa para negosiator harus memiliki kecerdasan untuk memahami pemikiran para pemimpin yang memberi mereka mandat, yakni Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Menyelaraskan visi juru runding dengan para "bos" mereka, menurut SBY, juga merupakan tugas yang tidak mudah.

Dengan pengalaman luas dalam resolusi konflik, baik di tingkat nasional maupun internasional, SBY menegaskan bahwa sebuah negosiasi membutuhkan kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. "Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah ‘take and give’," tulis SBY melalui akun X pribadinya, @SBYudhoyono, pada Jumat (27/2). Ia menambahkan bahwa keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus dipahami secara mendalam.
Khusus untuk negosiasi AS-Iran ini, SBY mengamati adanya karakteristik yang khas pada kedua pemimpin, Donald Trump dan Ali Khamenei. Keduanya, menurut SBY, memiliki ego, ambisi, dan kepentingan pribadi yang kuat. Trump dikhawatirkan akan menghadapi kehancuran reputasi dan warisan politiknya jika negosiasi gagal, sementara Khamenei khawatir sengketa sengit dengan Amerika bisa berujung pada pergantian rezim, yang berarti ini adalah "kepentingan fundamental untuk bertahan" bagi pemimpin Iran tersebut.
Banyak pihak memprediksi bahwa kegagalan perundingan ini akan memicu konflik berskala besar. Kondisi dianggap sudah "matang," tinggal menunggu komando dari Trump dan Khamenei. Namun, SBY memiliki pandangan berbeda. "Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak," ujarnya. Ia percaya bahwa para jenderal di kedua belah pihak akan terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya, sehingga Trump dan Khamenei tidak akan terburu-buru dalam memerintahkan pasukannya untuk berperang, mengingat risiko dan harga yang terlalu tinggi jika keputusannya keliru.
SBY kemudian memberikan catatan penting bagi seorang panglima tertinggi dalam mengambil keputusan untuk berperang demi kepentingan nasional.
Pertama, ia mempertanyakan apakah perang itu memang harus dilaksanakan atau masih ada opsi lain. Ini adalah perbedaan antara "perang sebagai keharusan" (war of necessity) dan "perang sebagai pilihan" (war of choice). Pada akhirnya, Ketua Umum Partai Demokrat itu menyatakan, kedua belah pihak harus menentukan apakah akan berperang atau menempuh jalan damai.
Kedua, sebuah negara harus siap berperang jika perhitungan strategisnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei, menurut SBY, harus dapat meyakinkan diri mereka sendiri, dengan logika dan akal sehat, bahwa perang yang mereka pilih memang akan membawa kemenangan. "Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar," tegas SBY. Ia juga menekankan pentingnya mendengarkan pertimbangan dan saran dari para jenderal serta petinggi militer, agar tidak terkubur oleh dominasi ego pribadi pemimpin.
Bagi Amerika Serikat, yang sering melontarkan ancaman untuk menghancurkan Iran (meskipun Iran belakangan juga membalas dengan ancaman serupa), SBY menyarankan agar berpikir sangat dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. "Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian ‘exit’ atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan," kata SBY, mengingatkan kembali pada pengalaman pahit di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Ia menegaskan, "Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan."
Sebagai penutup, SBY menyampaikan seruan kemanusiaan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia. Pesan ini bukan hanya ditujukan kepada Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga kepada seluruh pemimpin politik di dunia yang memegang kewenangan untuk memicu konflik bersenjata.

