Pembunuh Kali Waci Divonis Seumur Hidup

Sidang lanjutan perkara pembunuhan di Kali Waci

TIDORE – Sidang lanjutan perkara pembunuhan di Kali Waci, Kecamatan Maba Selatan, Kabupaten Halmahera Timur kembali digelar di Pengadilan Negeri Soasio. Sidang dengan agenda pembacaan putusan oleh majelis hakim ini dilaksanakan Senin (30/3) melalui telekonferensi untuk mencegah penularan Covid-19. Dimana pada sidang tersebut, baik terdakwa dan penasihat hukum (PH), Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan majelis hakim tidak berada di satu ruang sidang seperti pada sidang-sidang umumnya.

Sidang yang dipimpin Hakim Ketua Ferdinal yang didampingi Hakim Anggota Kadar Noh dan Bahrudin Tomajahu memutuskan para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan JPU. Namun dari keenam terdakwa ini, majelis hakim menjatuhkan vonis berbeda-beda sesuai dengan peran para terdakwa.

Dalam dakwannya JPU dijabarkan, terdakwa Niklas Dilingar alias Habel Lilinger alias Hambiki, Hago Baikole alias Hago, Rinto Tojou alias Rinto, Toduba Hakaru alias Toduba, Awo Gihali alias Awo, dan Saptu Tojou alias Saptu pada hari Jumat tanggal 29 Maret 2019 sekitar pukul 17.00 WIT atau pada suatu waktu dalam bulan Maret 2019 bertempat di kawasan Hutan Bungasil tepatnya di Kali Waci, Kecamatan Maba Selatan, Kabupaten Halmahera Timur telah dengan sengaja dan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain yang dilakukan para terdakwa dengan cara-cara antara lain.

Awalnya pada Senin (25/3/2019) sekitar pukul 08.00 WIT, para terdakwa berangkat dari Dusun Tukur-Tukur Desa Dodaga dengan membawa masing-masing peralatan berburu serta parang. Setibanya di SP 4 Desa Akedaga mereka menumpangi mobil rental Avanza warna hitam menuju kawasan Hutan Waci dan tiba sekitar pukul 10.30 WIT di Desa Wailukum atau tepatnya di areal PT Haltim Maning.

Selanjutnya para terdakwa berjalan kaki hingga tiba di Sungai Tewil sekitar pukul 15.00 WIT, kemudian beristirahat. Pada Selasa, mereka masuk ke dalam hutan untuk berburu hewan dan mencari kayu gaharu.

Saat masuk ke dalam Hutan Waci tersebut, terdakwa Habel membawa satu buah parang pando, satu buah tombak besi, lima pucuk anak panah yang terbuat dari besi, satu buah bambu yang dikaitkan dengan karet, dan 6 buah mata anak panah tanpa gagang. Terdakwa Hago membawa 24 anak panah yang terbuat dari besi, satu buah parang sangkur, satu buah bambu yang dikaitkan dengan karet. Terdakwa Toduba membawa satu buah barang bergagang kayu dan satu buah tombak besi. Terdakwa Rinto membawa satu buah parang pandu bergagang kayu, sementara terdakwa Saptu membawa satu buah barang dan satu buah tombak besi serta satu buah busur panah dan tempat anak panah.

Sehari setelah para terdakwa masuk ke dalam hutan, tepatnya pada Rabu (27/3/2019) sekitar pukul 09.00 WIT, saksi Halim Difa dan Harun Muharram bersama korban Habibu Salaton, Karim Abdurrahman dan Yusuf Halim berangkat dari Desa Waci menuju kawasan Hutan Bungasil untuk berburu dan mengambil pala hutan. Mereka menggunakan dua buah perahu ketinting dan menelusuri anak sungai hingga tiba di kawasan Hutan Bungasil sekitar pukul 17.00, lalu membuat befak atau rumah peristirahatan di sekitar Kali Waci.
Namun pada saat itu terdakwa Hago dan Saptu mengetahui saksi Halim dan Harun bersama korban Habibu, Karim dan Yusuf sedang masuk ke Hutan Bungasil, sehingga terdakwa Hago dan Saptu memberitahukan kepada terdakwa Habel, Rinto, Toduba dan Awo.
Selanjutnya, para terdakwa berjalan kembali masuk ke hutan. Pada tanggal 28 Maret 2019, para terdakwa bertemu dengan beberapa orang Dusun Titipa yang kini ditetapkan pihak kepolisian sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Mereka adalah Awo Baikole, Bawehe Bido, Taliakse Sasaba, Bernat Ngale-Ngale, dan Alen Baikole.

Para terdakwa lalu bergabung dengan kelima orang DPO ini dan membuat befak bersama-sama di pinggir Kali Waci. Kemudian pada tanggal 29 Maret 2019 sekitar pukul 08.00 WIT, saksi Halim bersama Harun dan korban Habibu, Karim serta Yusuf berangkat menggunakan dua buah perahu ketinting menelusuri anak sungai dari befak mereka menuju lokasi kebun pala hutan untuk berburu rusa.

Sekitar pukul 12.00, para terdakwa bersama dengan kelima DPO Kemudian datang menuju Kali Waci dan menemukan tempat istirahat para korban dan saksi. Setelah menemukan befak tersebut, terdakwa Hago, Saptu, Habel, dan DPO Awo langsung berteriak bunuh. Saat itu juga, para terdakwa kemudian berjalan menyusuri pinggiran sungai dengan jarak sekitar 200 meter dari rumah peristirahatan para korban dan saksi.

Terdakwa Habel juga meruncingkan bambu dan menancapkannya di sekitar sungai untuk melukai para korban apabila melarikan diri. Selanjutnya, terdakwa Hago, Saptu, dan Niklas menyuruh terdakwa Awo Gihali dan Rinto menebang pohon untuk menghalangi perjalanan para korban yang menggunakan perahu ketinting. Awo lalu membuat potongan kayu dari dahan pohon sebanyak 50 potong sementara terdakwa Saptu mengumpulkan batu kali sebanyak 30 buah. Sekitar pukul 14.00 WIT, para terdakwa bersama dengan kelima DPO itu menunggu para korban yang akan kembali menuju befak.

Dalam perjalanan pulang para korban dan saksi, perahu pertama ditumpangi Yusuf Halim, Habibu Salaton, dan Karim Abdurahman. Sementara perahu kedua yang berjarak 50 meter ke belakang ditumpangi saksi Harun Muharam dan Halim Difa.

Sekitar pukul 17.00 WIT, ketika perahu pertama tiba di lokasi kejadian yang berjarak 200 meter dari befak para korban, para korban menepikan perahu karena terhalang batang pohon yang ditebang terdakwa. Sementara perahu kedua masih berada di belakang.
Secara serentak, dari jarak sekitar 10 sampai 15 meter di atas tebing sungai sebelah kanan, terdakwa bersama-sama dengan kelima DPO langsung melakukan penyerangan. Para terdakwa dan kelima DPO langsung melakukan pelemparan menggunakan potongan kayu, sementara terdakwa Rinto dan Saptu melalukan pelemparan menggunakan batu kali secara berulang kali ke arah perahu yang ditumpangi para korban.

Setelah itu terdakwa Habel melakukan pelemparan menggunakan potongan kayu yang mengenai korban Yusuf yang duduk di bagian depan perahu. Terdakwa Awo Gihali juga melakukan pelemparan mengenai korban Yusuf dan membuatnya terjatuh ke sungai. Habel lalu memanah korban Karim yang duduk di bagian belakang perahu yang mengenai rusuk kiri bagian belakang.

Pada saat bersamaan, terdakwa Hago memanah korban Habibu yang duduk di bagian tengah perahu hingga terjatuh. Selanjutnya terdakwa Hago juga memanah korban Yusuf yang berusaha berenang ke tepian sungai dan mengenai kaki kirinya. Setelah itu, perahu kedua yang ditumpangi Halim Difa dan Harun Muharam tiba di lokasi kejadian. Halim lalu membantu mencabut anak panah yang tertancap di kaki Yusuf Halim. Sementara saksi Harun Muharram berlari ke sisi kiri sungai dan membuat potongan kayu lalu membalas lemparan para terdakwa. Halim Difa lantas berlari menuju perahu pertama dan mencabut anak panah yang tertancap di tubuh korban Karim Abdurahman dan korban Habibu Salatun.

Para terdakwa kemudian berpencar di sisi sungai sebelah kanan dan kembali melakukan penyerangan dengan cara melempar dan memanah dari arah belakang saksi Harun Muharram dan Halim Difa serta para korban. Harun, Halim dan Habibu pun tergeletak di sekitar Sungai Waci dalam keadaan tidak berdaya.

Tak sampai di situ, terdakwa Hago mengejar dan memanah Yusuf untuk kedua kalinya dan mengenai perut sebelah kiri. Yusuf terjatuh.

Sementara DPO Bawehe Bido memanah saksi Halim Difa yang mengenai bagian kakinya, namun Halim bersembunyi di balik semak-semak. Sedangkan Harun Muharam melarikan diri mencari bantuan.


Pada saat yang sama, Habel turun ke sungai dan menghampiri korban Karim lalu memotong tubuh korban sebanyak empat kali menggunakan parang yang mengenai bahu kiri dan kanan serta leher kiri dan kanan, diikuti terdakwa Todduba yang memotong Karim menggunakan parang sebanyak satu kali yang mengenai punggungnya.

Terdakwa Awo Gihali juga turun ke sungai dan memotong korban Habibu menggunakan parang yang mengenai wajah sebelah kiri korban sebanyak satu kali. Sementara terdakwa Saptu turun ke sungai dan memotong korban Karim mengenai wajah sebanyak dua kali.

DPO Bawehe Bido ikut-ikutan turun ke sungai memotong korban Karim dan Habibu sebanyak dua kali. DPO Taliakse Sasaba pun memotong tubuh Karim menggunakan parang miliknya sebanyak lima kali dan memotong wajah Habibu sebanyak dua kali.
Sedangkan DPO Bernat Ngale-Ngale kembali ke sungai dan memotong Habibu dua kali yang mengenai mulut dan telinga korban. DPO Alen juga turun ke sungai dan memotong bagian tengah kepala korban Karim sebanyak dua kali. Akibat perbuatan para terdakwa tersebut, korban Habibu, Karim, dan Yusuf meninggal dunia sebagaimana surat visum etrepertum tanggal 31 Maret 2019 yang dibuat dan ditandatangani oleh M. Taher Karim selaku perawat pelaksana Puskesmas Perawatan Bicoli dan Taher Yasin AMK selaku Kepala Puskesmas Perawatan Bicoli.

Dengan demikian, majelis hakim menilai perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 338 KUHP junto pasal 55 ayat (1) KUHP. Majelis hakim juga menilai perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 340 KUHP junto pasal 55 ayat (1) KUHP. "Menyatakan terdakwa masing-masing Niklas Lillingar alias Habel Lilinger alias Hambiki, Hago Baikole alias Hago, Rinto Tojou alias Rinto, Toduba Hakaru alias Toduba, Awo Gihali alias Awo, dan Saptu Tojou alias Saptu terbukti bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan JPU," kata Hakim Ketua Ferdinal. "Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Habel Lilinger dan Hago Baikole masing-masing pidana penjara seumur hidup, terdakwa Toduba Hakaru dan Saptu Tojou dengan pidana penjara 20 tahun, dan terdakwa Rinto Tojou dan Awo Gihali masing-masing 16 tahun," putus majelis hakim.

Putusan majelis hakim kepada para terdakwa ini lebih ringan daripada tuntunan JPU yakni hukuman mati untuk keenam terdakwa. Atasan putusan majelis hakim tersebut, para terdakwa melalui penasehat hukumnya menyatakan banding. Sementara JPU menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut.(cr-03/kai)