Satu Tenaga Medis Ditetapkan PDP


TERNATE – Seorang tenaga medis di Maluku Utara ditetapkan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19. Tenaga medis yang masih disembunyikan latar belakangnya itu telah diambil spesimennya untuk diuji di Laboratorium Kesehatan di Jakarta. Kuat dugaan, paramedis tersebut merupakan salah satu orang yang sempat melakukan kontak erat dengan Pasien 01 Malut alias warga Malut pertama yang dinyatakan positif Covid-19 beberapa waktu lalu. “Tenaga medis kita ada satu orang yang PDP dan kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Spesimennya sudah dikirim tanggal 2 April. Saat ini sebanyak 9 PDP yang rawat di RSUD Chasan Boesoerie," ungkap Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Malut dr. Rosita Alkatiri, Senin (6/4).

Dalam sehari terakhir, jumlah PDP di Malut bertambah 3 orang menjadi total 10 orang. Penambahan PDP berasal dari Kota Ternate, Halmahera Tengah dan Kepulauan Sula. “Sedangkan OTG bertambah 2 orang di Ternate menjadi 83 orang. Ini berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi. Sedangkan ODP ada penambahan 5 orang berasal dari Halsel, Halteng, Taliabu dan Morotai sehingga meningkatkan menjadi 353 ODP,” terang Rosita dalam konferensi pers kemarin.

PDP terbaru asal Kepsul, sambung Rosita, saat ini masih dirawat di Puskesmas Falabisahaya Kepsul. Ia disiapkan untuk dirujuk ke RSUD Sanana sebagai rumah sakit rujukan regional Covid-19. "Pasien dengan kelamin laki-laki berusia 40 tahun ini dengan riwayat perjalanan dari Surabaya tanggal 27 Maret menggunakan pesawat ke Makassar. Dan dari Makassar ke Kendari. Dari Kendari ke Bobong menggunakan kapal laut," paparnya.

Rosita bilang, setelah tiba di Falabisahaya pasien tersebut langsung mendapatkan pengamatan. Pada hari ketiga pasien mengalami gejala demam dengan suhu di atas 38 derajat disertai batuk. "Ada juga riwayat penyakit gula. Yang bersangkutan juga sudah dilakukan pemeriksaan rapid test dan hasilnya negatif. Tapi akan dilakukan pemeriksaan rapid test lagi 7 sampai 10 hari kemudian," ucapnya.

Gugus Tugas juga melakukan pemeriksaan rapid test pada 243 orang lainnya. Hasilnya, 8 diantaranya dinyatakan reaktif. "Ke-8 orang ini terdiri dari 6 OTG, 1 orang ODP dan 1 lainnya PDP. Dan 235 orang nonreaktif," ungkap Rosita.

Menurut Rosita, penggunaan rapid test harus diinterpretasikan dengan sangat hati-hati. Sebab meskipun hasil positif, namun tidak bisa dipastikan bahwa orang tersebut benar terinfeksi positif Covid-19. Sedangkan hasil negatif bukan berarti ia negatif terinfeksi yang berarti tetap berpotensi menularkan pada orang lain. "Ada berbagai hal yang menyebabkan hasil rapid test negatif. Pertama, belum terbentuknya antibodi saat pengambilan sampel. Kedua, pasien atau orang tersebut mengalami atau memiliki gangguan pembentukan antibodi," paparnya.

Rosita bilang, jika hasil rapid test reaktif maka harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR. "Apabila hasilnya negatif kita akan mengambil sampel ulang 7 sampai 10 hari kemudian," akunya.

Saat ini, sebagian dari 10 PDP di Malut dilaporkan dalam kondisi sehat. Sebagian lainnya masih menunjukkan gejala sakit. Seperti PDP asal Halmahera Utara yang tengah ditangani spesialis paru dan PDP asal Bastiong Talangame, Ternate, yang masih demam. “PDP dari Tobelo yang sedikit buruk. Sekarang ditangani dokter ahli paru. Kalau PDP dari Halteng kondisinya baik. Kalau PDP dari Bastiong Ternate hingga pagi tadi (kemarin, red) masih demam," ungkapnya.

Terkait rencana pindah tempat pemeriksaan laboratorium dari Jakarta ke Makassar, Rosita menyebutkan masih dikoordinasikan dan dikomunikasikan. "Masih diproses. Karen sesuai dengan SK yakni Litbangkes dan BBPK di Jakarta. Sehingga kita masih koordinasi dan komunikasi. Mudah-mudahan besok (hari ini, red) kita sudah dapat hasilnya," tandasnya.(cr-01/kai)