Satu Keluarga di Ternate Hidup Berhimpitan di Gubuk Sempit

DIHIMPIT KEMISKINAN: Wa Kheli Madilis bersama salah satu cucunya di tempat tinggal mereka. (PUTRI CITRA ABIDIN/MALUTPOST.ID)

Ternate, malutpost.id – Satu keluarga beranggotakan sembilan orang di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, hidup berhimpitan di sebuah gubuk sempit. Rumah satu ruangan itu dibangun menumpang di atas pekarangan rumah orang. Di tengah pergolakan kemiskinan, keluarga ini juga dihantui ancaman banjir lantaran tempat tinggalnya berada dekat kali mati.

 

Adalah pasangan Bung Marwan dan Wa Kheli Madilis, warga RT/RW 013/005 Kelurahan Kayu Merah, Kecamatan Ternate Selatan yang dihimpit situasi pelik itu. Bersama tiga anak dan empat cucu, mereka bersembilan tinggal di rumah reyot berukuran 3x4 meter. Berlantai tanah, dengan dinding yang ditutup menggunakan seng dan tripleks bekas.

 

Ketika malutpost.id bertandang ke kediaman Marwan dan Kheli, Rabu (29/4), rumah itu hanya memiliki satu ruangan yang digunakan untuk semua fungsi. Sebagai dapur, kamar tidur, hingga tempat menerima tamu. Beberapa lemari berisi pakaian menambah sempit rumah tersebut. Sudah dua tahun lebih pasangan ini dan anak-anaknya hidup seperti ini. “Dulu sempat tinggal di Falajawa II. Tapi harus keluar karena tanah yang kita tinggal itu tanah sengketa dan sudah dijual sama pemiliknya. Jadi mau tidak mau ya harus pindah,” tutur Wa Kheli.

 

Keluarga ini lantas tinggal di indekos. Namun pekerjaan Marwan yang hanya buruh angkut di Pelabuhan Bastiong Ternate tak cukup untuk menghidupi mereka jika harus membayar sewa kamar. “Dengan penghasilan suami yang tidak seberapa, belum lagi dengan makan sehari-hari anggota keluarga, akhirnya kita ke sini,” kisah Wa Kheli yang kini berusia 60 tahun.

 

Di Kayu Merah ada rumah milik adik laki-laki Wa Kheli. Keluarga ini sempat menumpang di rumah tersebut. Namun begitu sang adik menikah, rasa tak enak hati membuat Marwan dan Wa Kheli memilih memboyong keluarganya keluar. Keduanya lantas membangun gubuk di pekarangan rumah milik sang adik.

 

Selain sempit, rumah itu juga bocor di beberapa tempat. Dua kompor milik Wa Kheli kerap dipindah-pindah untuk menghindari kena air. "Kalau hujan tidak bisa tidur karena bocor," sambung Wa Kheli.

 

Hidup berhimpitan di ruang sesempit itu, Wa Kheli mengaku merasa tidak muat. Namun tak ada pilihan lain. “Sebenarnya anak saya ada 6, tapi 3 sudah tinggal terpisah ikut suaminya. Yang ada di sini anak 3 dan cucu-cucu, jadi kalau kumpul semua kan pasti baribut, malu hati sama tetangga,” akunya.

 

Letak rumah mereka di bibir barangka juga membuat was-was Wa Kheli. "Di sini yang kita khawatirkan juga kalau hujan deras itu bisa-bisa banjir," ucap ibu rumah tangga ini.

 

Rumah ini juga tak punya akses keluar masuk yang layak. Satu-satunya jalan masuk dan keluar adalah lewat rumah adik Wa Kheli. "Di samping kan sudah ditutup, makanya satu-satunya jalan keluar dan masuk lewat rumah sebelah. Kalau seandainya sudah dibuat pintu rumah bagian belakang, kita sudah tidak tahu mau keluar dari mana," terang Wa Kheli.

 

Rita, salah satu putri Marwan dan Wa Kheli bilang, ia cukup lama tinggal bersama pamannya. Sebab tempat tinggal orangtuanya tak cukup memuat mereka semua. “Tapi makin ke sini malu hati juga karena biar begitu om punya istri kan orang lain," ungkapnya.

 

Rita adalah salah satu anak yang sudah menikah. Meski begitu dia kerap tinggal di rumah orangtuanya. "Saya sebenarnya sudah ikut suami ke Tobelo, cuma karena suami masih sering kerja di sini sebagai tukang ojek akhirnya ikut ke sini lagi. Cuma sekali-kali balik ke Tobelo," akunya.

 

Namun Rita bilang ia dan suaminya sudah berencana pindah. Keduanya sudah dapat sebidang tanah di Kelurahan Tabona, Ternate Selatan. “Nanti selesai puasa ini baru pindah," tambahnya.

 

Di tengah keterbatasan ini, Rita bersyukur orangtuanya menerima bantuan sosial dari pemerintah. Meski asli Sulawesi Tenggara, Marwan dan Wa Kheli sudah sangat lama jadi penduduk Ternate. “Kalau papa dan mama itu tidak tahu pasti ke Ternate kapan, tapi sudah lama karena kami saudara semuanya lahir di sini makanya sudah ber-KTP di sini. Dan alhamdulilah dapat bantuan itu yang kayak beras, gula, minyak dan sebagainya," tutupnya.(mg-05)