Tak ada Kasus Positif Covid-19, Mengapa Taliabu Dipantau WHO?

Ilustrasi Korona (Foto: Tempo)

Ternate, malutpost.id - Jumlah kasus positif Covid-19 di Maluku Utara per Sabtu 27 Juni 2020 sebanyak 698 kasus atau bertambah 37 kasus baru. Jumlah ini tersebar di 9 kabupaten/kota di Malut minus Kabupaten Pulau Taliabu. 
 
Tidak hanya pasien positif, semua kasus korona juga bersih, baik orang dalam pemantauan (ODP), orang tanpa gejala (OTG) maupun pasien dalam pengawasan (PDP). Menjadi satu-satunya wilayah zona hijau di Malut, membuat Taliabu masuk dalam pantauan World Health Organization (WHO). Organisasi kesehatan dunia itu bersama Kementrian Kesehatan RI mendorong Taliabu menjadi daerah percontohan penanganan virus korona. 
 
"Taliabu jadi perhatian karena belum ditemukan ada kasus terkonfirmasi (positif). Hal ini menjadi perhatian apakah langkah-langkah pendeteksian/skrining sudah dilakukan dan sejauh mana upaya pencegahannya," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, dr. Rosita Alkatiri, kepada malutpost.id, Sabtu (27/6). 
 
Dia bilang, dengan nol kasus bukan berarti Taliabu tidak beresiko. Sebab, akses perhubungan dari dan menuju Taliabu memiliki resiko penularan. "Untuk itu dibutuhkan kecepatan deteksi, kecepatan merespon dan kecepatan penyebaran informasi untuk dapat mencegah dan mengendalikan Covid-19 ini," papar Rosita. 
 
Dikatakan Rosita, sejauh ini belum dilakukan pemeriksaan sampel spesimen terhadap warga Taliabu, hasil rapid tes yang dilaporkan juga seluruhnya non reaktif.
 
"Bisa jadi (sebagai daerah percontohan) untuk itu perlu dipantau apakah Taliabu merupakan satu-satunya kabupaten di Malut yang bebas dari kasus. Kalau memang seperti itu maka haruslah ada langkah pencegahan di pintu-pintu masuk dan upaya lainnya," tandas mantan Juru Bicara Gustu Covid-19 Malut itu. (ikh)
 
 
-
Peliput : Tim
Editor   : Ikram Salim