Amar Maruf Tantang Hadirkan Mahkota Kesultanan Jailolo

Amar Ma’ruf saat bertandang ke redakasi malut post. Foto lain sertifikat obligasi emas yang dipegangnya. (Foto: Hizbullah/malutpost.id)

Ternate, Malut post.id – Tidak ingin polemik siapa pewaris sah tahta kerajaan kesultanan Jailolo Halmahera Barat (Halbar) terus berkepanjangan.

Amar Ma’ruf menantang seluruh pihak yang ikut mengklaim sebagai pewaris kesultanan Jailolo untuk duduk bersama melakukan ‘Prosesi Ritual Adat Penentuan Ahli Waris Kesultanan Jailolo yang Sah’. Menurut Amar hanya dengan cara tersebut maka tidak ada lagi yang mengklaim diri dan mengaku-ngaku sebagai Sultan Jailolo.

Namun sebelum menjalankan prosesi adat tersebut, Jo Hukum Kesultanan Jailolo ini mengajukan empat poin. Pertama, setiap pihak yang mengklaim sebagai pewaris sah kesultanan  harus memperlihatkan silsilah keturunan Kesultanan Jailolo.

Kedua, disumpah adat dan sumpah agama. Ketiga, bersedia membuat surat pernyataan yang isinya apabila terjadi sesuatu yang menimpa diri dan keluarga di kemudian hari, maka tidak ada tuntutan dari pihak manapun.

Keempat, masing-masing yang mengklaim dirinya sebagai sultan Jailolo pada hari prosesi ritual harus mampu menghadirkan Mahkota Kesultanan Jailolo yang hilang sejak ratusan tahun silam.

Sehingga, bisa membuktikan kepada Masyarakat adat Halmahera Barat dan Moloku Kie Raha bahwa yang bersangkutan adalah benar-benar keturunan ahli waris Kolano Jailolo.

Amar juga menghimbau kepada keluarga besar Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, dan kesultanan Bacan untuk duduk bersama memfasilitasi penyelesaian kisruh yang menimpa kesultanan Jailolo. Karena, empat Kesultanan ini terlahir dari satu garis keturunan.

“Hukum adat yang berlaku di kesultanan Jaziratul mulkiyah Moloku Kie Raha, bahwa jika kita mengaku diri sebagai sultan jailolo maka harus mampu membuktikan dengan menghadirkan Mahkota yang ada di alam ghoib ke alam nyata. Bila proses adat itu mau dilakukan saya akan datangkan Mahkota kesultanan JAILOLO dari alam gaib,” ucap Amar saat bertandang ke redaksi dikantor Malut Post, kemarin (5/8).

Kesultanan Jailolo saat ini belum berdaulat karena pada tahun 1518 kerajaan Jailolo ditaklukan oleh kerajaan Ternate. Dan sejak itu, wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate meliputi seluruh daratan Halmahera. Olehnya itu, siapa pun yang ingin mejadi Sultan Jailolo, maka harus mengambil legitimasi dari Kesultanan Ternate.

“Saya tidak mengklaim diri sebagai Sultan Jailolo, tapi saya mengklaim diri sebagai ahli waris Kesultanan jailolo,” paparnya.

Amar juga mengklaim punya bukti dirinya sebagai ahli waris kerajaan Jailolo berdasarkan surat wasiat atau surat kuasa dari mending pengisi jabatan Sultan Jailolo sebelumnya sebagaimana yang telah ia sampaikan beberapa waktu lalu.

Surat kuasa Nomor 02/KJ.MKR/VII/2017 dan ditandatangani oleh mendiang H Abdullah Sjah pada tanggal 10 Juli 2017 tersebut, menjelaskan bahwa Abdullah Syah sebagai Kolano/Sultan Jailolo memberikan kuasa kepada Amar Ma’ruf selaku Johukum Malamo (Penasehat kesultanan Jailolo).

Ada dua poin yang dijelaskan dalam surat tersebut. Pertama, wasiat yang telah diterima oleh pemegang amanah (OPA) dari Almarhum Abd Kadir sebagai turunan langsung Johukum Malamo Kerajaan/Kesultanan Jailolo tentang hal-hal yang menyangkut dengan harta milik Kerajaan/Kesultanan Jailolo yang berada di bawah kaki dua bukit di Sulawesi Utara diserahkan ke Kerajaan atau Kesultanan Jailolo melalui Johukum Malamo/Penasehat Kesultanan Jailolo.

Kedua, barang atau harta warisan Kerajaan/Kesultanan Jailolo dapat dijual dan hasil penjualannya diserahkan kepada pihak Kerajaan/Kesultanan Jailolo untuk kepentingan umat.

 “Berdasarkan surat kuasa dan wasiat yang saya pegang, bahwa seluruh harta kerajaan Jaziratul Mulkiyah Moloku Kie Raha sekarang ada di tangan saya,” ungkapnya. 

Amar kemudian menujukan bukti harta dalam bentuk foto sertifikat yang ia miliki saat ini. Sertifikat obligasi emas yang ditinggalkan oleh leluhur pada zaman dahulu tersebut, untuk 1 sertifikat berisi seribu picis yang nilainya sebesar satu ton emas. 

“Sertifikat ini ada di tangan saya sebanyak seribu lembar, sehingga total emas yang ada pada saya satu juta ton. Dan bila pertemuan Prosesi Ritual adat itu terjadi saya akan buktikan di hadapan pemerintah daerah dan juga di hadapan para Sultan Moloku kie Raha,” janjinya.

Saat ini seluruh emas yang dia miliki tersimpan aman. Untuk dapat menggunakan emas itu harus melewati sidang di Belanda agar tidak terjadi pelanggaran hukum terkait kepemilikan.

Amar juga meminta dukungan dari pemerintah daerah baik Gubernur Provinsi Maluku Utara, Bupati Halmahera Barat, Halmahera Selatan, Kota Tidore Kepulaun dan Kota Ternate serta Sultan Tidore, Sultan Bacan dan Kesultanan Ternate untuk duduk bersama dan membahas tentang bagaimana harta yang ia miliki tersebut bisa didistribusikan kepada seluruh rakyat Moloku Kie Raha.

“Sehingga tidak terjadi polemik di masyarakat, bahwa seakan-akan saya mengklaim sebagai Sultan jailolo karena kepentingan tertentu, apalagi berbau politik,” pungkasnya. (mg-01/rul)

 

 

-

Peliput : Alfandi Bambang

Editor   : Fachrul Marsaoly