Alasan Malut Paling Sedikit Penerima Manfaat Kartu Prakerja

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari. (Foto: Ikh/malutpost.id)

Ternate, malutpost.id -- Maluku Utara berada pada posisi ketiga penerima Kartu Prakerja paling sedikit di bawah Provinsi Papua dan Papua Barat.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari menjelaskan, tercatat ada 5.597.179 penerima Kartu Prakerja yang tersebar di 34 provinsi pada 514 kabupaten/kota di tanah air.  Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari gelombang 1 hingga 9 yang terlayani secara digital.

Dari 5,5 juta penerima manfaat Kartu Prakerja, Maluku Utara masuk dalam empat besar daerah dengan peserta Kartu Prakerja paling sedikit. Padahal, pada setiap gelombangnya tersedia kuota untuk 800 ribu penerima manfaat program Jokowi dari Sabang sampai Merauke itu.

Denni Puspa bilang, Malut hanya menjaring 13.500 penerima Kartu Prakerja, atau berada pada posisi ketiga di bawah Papua Barat sebesar 6.600 penerima dan Papua sebanyak 10.500 penerima. Sementara Kalimantan Utara ada di posisi keempat dengan menggaet 27.300 penerima Kartu Prakerja.

“Kami berharap pada 2021 mendatang, Kartu Prakerja bisa menarik lebih banyak peminat dari 8 kabupaten dan 2 kota yang ada di provinsi Maluku Utara. Potensi angkatan kerja di provinsi kepulauan ini sangat besar untuk menggerakkan ekonomi daerah,” kata Denni usai kegiatan di Muara Hotel, Ternate, Senin (19/10/2020).

Denni memaklumi, pada tahun pertama pelaksanaan program Kartu Prakerja masih belum meraih keikutsertaan penerima dengan tingkat antusias merata di setiap daerah. Ada beberapa penyebab, seperti sosialisasi dan akses komunikasi internet, karena tahun pertama Kartu Prakerja full dilaksanakan secara daring. “Yang paling sedikit bukan karena kuota karena penerimanya memang sedikit yang memenuhi persyaratan yang bukan SMA, sedang kuliah, penerima bansos, ASN itu ngga boleh,” ujarnya.

Dia menambahkan, dampak pandemi covid-19 membuat program Kartu Prakerja dilaksanakan sepenuhnya secara digital. Dengan metode daring, Kartu Prakerja menjadi ‘pilot project’ pelaksanaan transformasi digital secara nasional. Seluruh penerima Kartu Prakerja dari Aceh hingga Papua mendapatkan jenis pelatihan yang sama, tanpa ada perbedaan. Baik yang di  Jakarta sampai yang di pedalaman Sula dan Morotai di Maluku Utara.

Dia mengaku, penerima Kartu Prakerja tahun pertama dinilai tepat sasaran. Data menunjukkan, mayoritas peserta berusia muda, menganggur, hidup di sektor informal, serta memiliki pendapatan rendah. “Karena itu, dana Rp 3.550.000 bagi setiap peserta, meliputi bantuan pelatihan dan insentif menjadi sangat berarti untuk hidup di masa pandemi seperti saat ini,” ungkapnya.

Sementara, menjadi penerima Kartu Prakerja, lanjut dia, juga terbukti memberi dampak besar pada status kebekerjaan mereka. Baik membantu mempertahankan status kebekerjaan maupun mengurangi laju pengangguran. “Sebelas persen penerima Kartu Prakerja yang sebelumnya menganggur kemudian bekerja. Sementara 47 persen penerima Kartu Pekerja yang sudah bekerja tetap bekerja setelah mengikuti berbagai pelatihan di program Kartu Prakerja,” tutupnya. (ikh)

 

 

-

Peliput : Tim

Editor  : Ikram