Umar Umabaihi Bongkar Kegagalan HT-Zadi di Kampanye Perdana

Kampanye terbatas calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Kepulauan Sula nomor urut 1 Hendrata Thes-Umar Umabaihi di Desa Waiman, (Senin (28/9/2020). (istimewa)

Sanana, malutpost.id -- Kontradiksi pernyataan Hendrata Thes dan pendampingnya, Umar Umabaihi warnai kampanye perdana di Desa Waiman Kecamatan Sula Besi Tengah pada, Senin (28/9/2020) malam. 

Di hadapan calon bupati, Umar malah bongkar kegagalan Hendrata dan Zulfahri Abdullah selama memimpin Kepsul, terutama perikanan dan kelautan. 

Dalam sambutannya, Umar mengaku hobi mancing dan akrab dengan para nelayan. Karena itu, program yang diusung paslon nomor urut 1 ini dianggap perpihak kepada nelayan. "Karena itu, kedepan saya harapkan, program nelayan juga ada sehingga kita harus bentuk kelompok nelayan. Kenapa, karena di sini (Waiman) belum dibentuk kelompok nelayan," kata Umar. 

Belum adanya fasilitas pendukung untuk nelayan juga diakui oleh sejumlah warga yang hadir dalam kampanye HT-Umar saat itu. 

Sementara, program peningkatan kesejahteraan nelayan sudah termuat dalam program kerja HT-Zadi sebelumnya yakni: menjadikan Sula sebagai lumbung ikan guna menjawab ketersediaan ikan lokal dan ekspor dengan cara membuka tempat pelelangan ikan (TPI) dan membuka pabrik pengalengan ikan. 

Belum sampai disitu, Umar juga mengaku infrastruktur jalan aspal juga belum seluruhnya dinikmati warga Sula. Dia mencotohkan di Desa Modapia dan Saniahaya Kecamata Mangoli Utara. "Jadi mungkin kedepan kita bisa buat jalan dari Saniahaya sampai ke Modapia," ucapnya.

Berbeda dengan Umar, Hendrata dalam pidatonya justru mengkalim telah banyak membuat progres perubahan di Kepsul, terutama jalan, telekomunikasi dan penerangan listrik.

"Dulu di Waigai itu gelap. Tapi sekarang sudah terang dan sudah mudah komunikasi (baku telpon). Artinya sudah banyak ada perubahan. Bukan saja di sini, tapi semua ada perubahan," klaim Hendrata.

Soal jalan, Hendrata mencontohkan di desa Waiman yang kini sudah menikmati jalan aspal. "Dulu ke Waiman sama seperti kita berjalan di atas karang. Tapi sekarang, jalan sampai ke Malbufa juga sudah bagus," paparnya.

Pada kesempatan tersebut, bupati non aktif ini juga sentil ruas jalan di Sulabesi Barat. Dia mengaku, jalan tersebut segera dibangun tahun ini."Itu memang ruas jalan provinsi. Tapi kita yang usul. Jalan dibangun menggunakan dana pinjaman dari TP. SMI sekitar Rp 23 milir," tandasnya. 

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepsul, Adam A. Umasugi mengatakan, masih banyak kendala khususnya pengembangan sektor industri perikanan yakni alat tangkap. Alat tangkap massal kata Adam, belum terlalu banyak. “Kita masih kelolah hasil tangkapan secara tradisional. Sementara untuk melihat potensi kita, kita membutuhkan alat tangkap massal seperti jaring di atas 10 GT," kata Adam pekan lalu.

Selain alat tangkap, kendala lainnya yakni moda transportasi untuk distribusi hasil tangkap ke pasar. "Kita punya kapal, cold storage (alat pendingin), pabrik es. Yang menjadi persoalan adalah kita tak punya daya jangkau sistem pasar atau distribusi. Kita punya potensi. Tapi sarana transportasi yang tak ada," ungkap Adam.

Adam bilang, hanya ada 5 armada tangkap milik masyarakat dengan volume di bawah 10 grous ton (GT). Praktis, sangat berpengaruh terhadap hasil tangkap. Di sisi lain,hasil tangkap nelayan hanya dijual di wilayah Sula. "Ini tentunya sangat berpengaruh terhadap hasil tangkap, hasil tangkap masih dijual seputaran Sula alias masih level lokal," pungkasnya. (cr-01)

 

-

Peliput : Gunawan Tidore

Editor : Ikram