Zakat dan Pendistribusiannya dalam Pandangan Islam


Oleh: Nayla Syafwatullah

Marhaban ya ramadhan. Tak terasa ramadhan sudah memasuki hari ke empat belas. Di tengah kesibukan kita dalam melakukan amalan-amalan wajib juga amalan sunah, satu hal yang tidak boleh terlewatkan, yakni kewajiban megeluarkan zakat fitrah. Baru-baru ini, Kementerian agama (Kemenag) Kabupaten Halmahera Selatan, Propinsi Maluku Utara menetapkan nominal zakat fithrah pada bulan ramadhan 1442 H sebesar 35. 000 per orang. Penetapan harga zakat diputuskan berdasarkan rapat bersama pihak Kemenag Halsel, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Halsel, Ketua Nhdatul Ulama (NU) Halsel, Ketua Muhammadyah Halsel, KUA se Halsel, para Imam Masjid dan Sekretaris Diskoperindag Halsel bertempat di aula kantor Kemenag Halsel, Kamis (8/04/2021).

Kepala Tata Usaha (KTU) Kemenag Jauhari S Tawari, Kamis (8/04/2021), mengatakan bahwa penetapan nominal Zakat berdasarkan hasil survei dari Tim Seksi Zakat Wakaf Kemenag Halsel. Rp.13.750. Angka diatas berdasarkan harga beras sebesar Rp. 13.750 ribu per kilo, yang dibulatkan menjadi Rp. 14. 000 ribu per kilo gram, dikalikan 2,5 kilo gram menjadi Rp. 35.000 jika diuangkan.

Ketentuan Zakat dalam Islam

Zakat secara bahasa berarti berkembang (an-namaau) juga pensucian (tathhir), keberkahan (al-barakah), dan baik (thayyib). Menurut mayoritas ulama, batasan orang yang wajib membayarkan zakat adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan keluarga yang ia nafkahi pada malam dan siang hari ‘ied. Maka dia dianggap mampu, wajib mengeluarkan zakat fitrah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa meminta dan padanya terdapat sesuatu yang mencukupinya, maka seseungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud, Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Abi Daud) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/80).

Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan yang menjadi makanan pokok. Sebagaimana hadits yang diriwatkan oleh Abi Said al-Khudri. Beliau berkata:

“Kami telah mengeluarkan zakat fithrah pada saat Rasulullah (masih) berada di tengah-tengah kami satu sha’ dari makanan, atau satu sha’ dari kismis, atau satu sha’ aqith. Aku tetap melakukan hal itu (dengan mengeluarkan benda-benda tersebut) sebagaimana aku telah mengeluarkannya selama ini. (HR. Bukhari dan Muslim dengan lafadz berdasarkan riwayat Muslim).

Sha' adalah ukuran takaran yang berlaku di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan masyarakat Madina. Satu sha’ gandum setara dengan 2,25 kg gandum atau setara dengan 2.176 gram gandum. Madzhab Imam Malik membolehkan yang menjadi bahan makanan penduduk negeri, sebagaimana terdapat dalam hadits. Atau yang biasa dimakan oleh masyarakat. Misalnya beras dan biji adas, kacang-kacangan dan lain-lain. (kitab Balighatu as-Salik).

Madzahab Imam Syafi’i membolehkan mengeluarkan zakat fithrah dari jenis yang bisa untuk dizakatkan, misalnya hasil pertanian, buah-buahan, Utamanya adalah yang menjadi makanan penduduk negeri tersebut (Mughni al-Muhtaj). Madzhab Imam Hambali membolehkan mengeluarkan zakat fithrah hanya dari yang terdapat dalam hadits. Beliau tidak membolehkan selain dari yang terdapat dalam hadits tersebut. Akan tetapi jika tidak dijumpai yang disebutkan dalam hadits, maka boleh dengan sejenis bahan makanan yang layak, seperti biji-bijian jagung (shorgum, beras (al-Mugni). Dari kalangan para mujtahid yang disebutkan tadi, seluruhnya tidak membolehkan zakat fithrah dikeluarkan dalam bentuk nilai tertentu dari mata uang, kecuali pendapatnya Imam Abu Hanifah.

Penyaluran Zakat Fithrah dalam Islam

Zakat merupakan salah satu pilar syari’at Islam. Zakat berfungsi untuk distribusi kekayaan dari kelompok yang mampu (aghniya’) kepada golongan yang kurang mampu (dhuafa’) dan yang tertindas (mustadh’afin). Ketentuan maksimal kadar zakat dalam syara' tidak dinyatakan dalam nash secara langsung yang diberikan kepada mustahik. Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk di jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (TQS at-Taubah [9]: 60).

Dari ayat diatas dapat diistinbat (ditetapkan hukum) kadar maksimal yang diberikan kepada mustahik zakat. Karena para mustahik zakat disebutkan dalam ayat tersebut dengan sifat mufhimah yang menunjukkan sebab mereka diberi zakat. Ini menunjukkan bahwa pemberian zakat kepada mustahikk disertai ‘illat dengan sifat yang ada pada mereka. Selama golongan yang diberi zakat itu masih dalam cakupan sifat yang membuat mereka berhak menerima, maka dia diberi. Jika telah melewati sifat itu, maka tidak diberi.

Dalam kitab al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah dalam bab Mashârif az-Zakât telah dijelaskan makna ayat diatas, sebagai berikut: 1. Al-fuqarâ` (orang-orang fakir) yang tidak memperoleh harta untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu pangan, sandang, dan papan. 2. Al-Masâkîn (orang-orang miskin) yang tidak mendapati apa-apa. Tetapi mereka tidak meminta-minta kepada orang-orang. 3. Al-‘âmilûna’alayhâ (pengurus zakat) mereka adalah as-su’âtu, orang yang ditunjuk untuk mengumpulkan sedekah dari orang yang wajib membayarnya atau untuk mendistribusikan zakat kepada para mustahiknya. 4. Al-mu`allafah qulûbuhum (mualaf) mereka adalah golongan para pemimpin, tokoh, orang-orang berpengaruh atau orang-orang pemberani yang iman mereka belum menancap kuat. Mereka diberi zakat untuk menguatkan iman mereka. 5. Ar-riqâb (hamba sahaya) budak yang punya perjanjian dengan tuannya untuk menebus dirinya dengan sejumlah harta untuk memerdekakan diri mereka. 6. Al-gharimûn (orang yang berutang) pembayaran utang untuk memperbaiki hubungan keluarga atau membayar diyat atau mereka menanggung utang untuk memenuhi kemashalatan mereka yang khusus. 7. Fi sabilillah orang yang berjihad dan yang perlukan untuk penentu jihad berupa pembentukan pasukan, mendirikan industri, pembuatan senjata. 8. Ibnu as-Sabîl (musafir) orang kehabisan bekal dalam perjalanan dan tidak bisa mengantarkannya ke negerinya.

Selain golongan-golongan yang disebutkan di dalam ayat tersebut, tidak boleh diberi zakat. Jadi tidak boleh digunakan untuk pendirian masjid, rumah sakit, dan yayasan sosial. Atas kemaslahatan negara atau umat, sebab zakat khusus untuk delapan ashnaf. Wallu’alam biashawab. (*)