Miras, Perusak Generasi Muda Kota Madani

Oleh: Visioner Peradaban


Sungguh menyedihkan dikala bulan nan mulia ramadhan menyapa namun disambut dengan hal-hal yang justru semakin menabung dosa. Terlepas apakah dia seorang muslim atau bukan, datangnya ramadhan mubarok seharusnya ia bersuka cita menyambut dengan penuh taqwa bagi si muslim dan bagi yang non-muslim seharusnya dia memiliki rasa toleransi yang tinggi untuk menghargai kaum muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum bagi setiap hamba untuk semakin banyak waktu berduan dengan Sang Pemilik jagad raya, Allah SWT. Ramadhan bukannya memperbaiki diri malah bermaksiat. Ini bukti secuil fakta dari sekelumit tumpukan kerusakan akhlaq dan moral generasi muda Ternate. Tanah kesultanan ini seharusnya terjaga dengan aqidah Islam sebagaimana yang diperjuangkan oleh para Sultan-sultan terdahulu.

Julukan Ternate kota madani itu kini tak sesuai realita lagi. Seharusnya kota itu dibangun dengan asas aqidah Islam, dijaga sesuai dengan norma-norma agama sehingga menjadikan kota Ternate sebagai kota peradaban yang melahirkan generasi muda rabbani. Sayangnya, akal manusia lebih dikedepankan dalam landasan berbangsa, bernegara dan mengatur masyarakat. Sekularisme, dengan instrumen demokrasinya berhasil menjauhkan manusia dari fitrohnya yang lemah seolah mampu mengelola negara dengan mengandalkan kekuatan manusia semata tanpa berlandaskan kekuasaan Sang Pencipta. Maka tak dielakan lagi banyak melahirkan ketimpangan sana sini.

Ramadhan akan mampu dicapai setiap insan dengan ketakwaan hakiki apabila ditopang oleh peran keluarga sebagai aktor utama, masyarakat sebagai kontrol dan negara yang mengawasi dan memberikan sanksi tegas jika terdapat pelanggaran didalam masyarakat. Menuju masyarakat yang madani berperadaban tak bisa hanya mengandalkan peran kelurga semata, sementara manusia merupakan makhluk sosial dengan cakupan lingkungan yang luas. Tentu membutuhkan lingkungan yang positif sehingga produk aqliyah akan melahirkan nafsiyah yang baik.

Hal tersebut tentu tak bisa dibayangkan atas dasar apa kemudian pemerintah melegalkan investasi minuman beralkohol dengan mengeluarkan Perpres No. 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Perpres ini mengatur pembukaan investasi baru industri miras yang mengandung alkohol. Industri dan perdagangan miras diklaim memberikan manfaat secara ekonomi, yakni berupa pendapatan negara. Pada 2020, penerimaan cukai dari Etil Alkohol sebesar Rp240 miliar dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) Rp5,76 Triliun (cnnindonesia.com, 02/03/2021). (muslimah news id 03/05/21).

Studi yang ditulis Montarat Thavorncharoensap dalam 20 riset di 12 negara menyebutkan, beban ekonomi dari minuman beralkohol adalah 0,45% hingga 5,44% dari PDB (republika.co.id, 1/3/2021). Jika angka kerugian di AS itu diterapkan ke Indonesia, PDB Indonesia pada 2020 adalah Rp15.434,2 triliun. Jika dikalikan 1,66% maka hasilnya adalah Rp256 triliun. Jika diasumsikan angka terendah 0,45% maka kerugian yang bisa diderita negeri ini akibat konsumsi miras Rp69,5 triliun.

WHO menyatakan, alkohol membunuh 3,3 juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Angka kematian akibat konsumsi alkohol ini jauh di atas gabungan korban AIDS, TBC, dan kekerasan. WHO menambahkan, alkohol mengakibatkan satu dari 20 kematian di dunia tiap tahun, setara satu kematian tiap 10 detik (kompas.com, 12/5/2014).

Konsumsi miras juga erat kaitannya dengan bahkan memicu tindak kejahatan dan kekerasan. Di AS, satu lembaga yang menangani kecanduan alkohol dan obat-obat terlarang, NCADD (National Council on Alcoholism and Drug Dependence), pernah merilis laporan 40% kekerasan terjadi disebabkan faktor alkohol. Di negeri ini banyak fakta yang menegaskan konsumsi miras erat dengan kasus kejahatan. Kasus terbaru, seorang oknum polisi dalam keadaan mabuk menembak empat orang. Tiga di antaranya meninggal. Salah satunya anggota TNI (kompas.com, 26/02/2021).

Allah SWT menyebut khamr (dan judi) bisa memunculkan permusuhan dan kebencian di antara orang beriman, memalingkan mukmin dari mengingat Allah, dan melalaikan salat. Allah SWT juga menyifati khamr dan judi dengan rijs[un] (kotor), perbuatan setan, dan sebagainya. Semua ini mengisyaratkan dampak buruk miras. Miras tidak hanya merusak pribadi peminumnya. Miras juga berpotensi menciptakan kerusakan bagi orang lain. Mereka yang sudah tertutup akalnya oleh miras berpotensi melakukan beragam kejahatan, bermusuhan dengan saudaranya, mencuri, merampok, membunuh, memperkosa, dan kejahatan lainnya.

Pantaslah jika Nabi Saw. menyebut khamr sebagai ummul khaba’its (induk dari segala kejahatan),

“Khamr adalah biang kejahatan dan dosa yang paling besar. Siapa saja yang meminum khamr bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya.” [HR ath-Thabarani].

Islam dengan tegas mengharamkan segala macam miras. Allah Swt. berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah semua itu agar kalian mendapat keberuntungan.” [QS al-Maidah [5]: 90]

“Rasulullah Saw. telah melaknat terkait khamr sepuluh golongan: pemerasnya; yang minta diperaskan; peminumnya; pengantarnya, yang minta diantarkan khamr; penuangnya; penjualnya; yang menikmati harganya; pembelinya; dan yang minta dibelikan,” [HR at-Tirmidzi].

Islam menetapkan sanksi hukuman bagi orang yang meminum miras berupa cambukan 40 kali atau 80 kali. Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan, “Rasulullah Saw. mencambuk (peminum khamr) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunah. Ini adalah yang lebih aku sukai.” [HR Muslim].

Untuk pihak selain yang meminum khamr, maka sanksinya berupa sanksi ta’zir. Bentuk dan kadarnya sanksi tersebut dikembalikan kepada hakim atau qadhi, sesuai ketentuan syariat. Tentunya sanksi tersebut harus memberikan efek jera. Atsmosfer demokrasi dengan tuannya kapitalisme akan senantiasa melihat segala sesuatu sebagai lahan meraup keuntungan tanpa berkacamata pada halal dan haram. Mencampakkan agama sebagai standar kehidupan. Olehnya selama sistem ini diadopsi maka miras akan terus mengancam masyarakat khususnya generasi muda. Karena itu pula, sudah saatnya kaum muslim segera meninggalkan sistem sekuler yang diterapkan saat ini, seraya segera menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Wallahu’alam biashawab.