Malutpost.id, Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan kampus mereka, Jalan AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (17/6). Aksi ini diwarnai dengan pementasan teatrikal yang secara simbolis menggambarkan kondisi Republik Indonesia saat ini sebagai "sekarat" akibat berbagai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Para demonstran menutup total ruas jalan utama tersebut, menyandera sebuah truk kontainer, dan membakar ban bekas di tengah jalan. Akibatnya, kemacetan parah tak terhindarkan, melumpuhkan arus lalu lintas dan memaksa pengendara mencari jalur alternatif untuk menghindari tumpukan kendaraan yang mengular panjang.

Salah satu sorotan utama yang disuarakan mahasiswa adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh pemerintah. Menurut mereka, anggaran negara yang sangat besar dialokasikan untuk program tersebut seharusnya dapat dialihkan ke sektor-sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan yang lebih mendesak. "Kalau dari MBG, karena kan sudah menjadi isu yang pro-kontra, seharusnya MBG ditiadakan," tegas Plt Presiden BEM UNM, Nur Intan Maharani Ilyas, saat diwawancarai Malutpost.id.
Selain program MBG, mahasiswa juga menyuarakan penolakan keras terhadap ekspansi militer ke ruang-ruang publik serta Undang-Undang Kepolisian (UU Polri) yang dianggap memiliki posisi setara dengan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI). Mereka juga menyoroti pemborosan dana APBN di sektor pendidikan, termasuk penolakan keras terhadap Koperasi Merah Putih yang dianggap tidak transparan dan tidak pro rakyat.
Puncak aksi demonstrasi adalah pementasan teatrikal yang menarik perhatian. Dua mahasiswa mengenakan topeng bergambar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kemudian membalut diri dengan perban, seolah menunjukkan kondisi kedua pemimpin tersebut dalam keadaan kritis. Adegan ini secara simbolis merepresentasikan kondisi kepemimpinan negara yang dianggap sedang dalam keadaan tidak sehat. "Melihat kondisi bangsa hari ini itu ibaratnya kita sudah sekarat ya, karena memang sudah banyak sekali kemudian program-program populis dari pemerintah yang sama sekali tidak berpengaruh signifikan kepada rakyat. Makanya kita mengibaratkan hari ini Republik Indonesia itu sekarat," jelas Nur Intan lebih lanjut.
Tak hanya di depan kampus UNM, gelombang demonstrasi serupa juga terjadi di beberapa titik strategis lainnya di Makassar pada hari yang sama. Aksi-aksi tersebut meliputi depan kampus UMI Jalan Urip Sumiharjo, depan kampus Universitas Muhammadiyah Makassar Jalan Sultan Alauddin, dan di bawah jembatan flyover Jalan Urip Sumiharjo. Seluruh aksi ini menyebabkan gangguan lalu lintas yang signifikan dan kemacetan panjang di berbagai ruas jalan utama kota, memaksa masyarakat mencari rute alternatif.


































