Malutpost.id, Wacana penggantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda atau Sunda kembali mengemuka, menyusul sinyal "lampu hijau" dari seluruh fraksi di DPRD Jawa Barat untuk pembahasan lebih lanjut di tingkat legislasi. Di balik usulan ini, terhampar perjalanan panjang perubahan identitas sebuah wilayah yang merentang dari era prasejarah zaman es, masa kerajaan, kolonialisme Belanda, hingga kemerdekaan Indonesia.
Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia, yang turut serta dalam tim pengkaji Provinsi Sunda atau Tatar Sunda, menjelaskan bahwa inisiatif perubahan nama ini merupakan upaya untuk menegaskan kembali sebuah ruang hidup yang kaya akan akar kebumian, sejarah mendalam, beragam budaya, bahasa, dan memori kolektif yang telah terukir lama.

Menurut Ganjar, nama "Jawa Barat" lebih bersifat penanda administratif semata, yang hanya menunjukkan arah mata angin. Padahal, secara geografis, ada wilayah yang lebih "barat" lagi, yakni Provinsi Banten. Ia menekankan bahwa penamaan berdasarkan letak geografis tidak sepenuhnya mampu menjelaskan akar kewilayahan, sejarah ruang, dan ikatan emosional masyarakat dengan tanah tempat mereka bernaung.
Jejak Geologis dan Asal Mula "Sunda"
Ganjar menerangkan, konsep "Sunda" memiliki dimensi kewilayahan yang jauh melampaui batas administratif modern. Bukan sekadar identitas budaya atau etnis, ia menyebut "Sunda" terjalin erat dengan ruang kebumian yang berusia jauh lebih tua.
Dalam ilmu kebumian, dikenal istilah Paparan Sunda (Sunda Shelf) atau Sundaland, sebuah kawasan landas kontinen Asia Tenggara yang mencakup daratan luas seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan sekitarnya. Para pakar sejarah dan geolog sepakat bahwa setelah berakhirnya zaman es, daratan ini tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, membentuk kepulauan yang kita kenal sekarang. Istilah ini murni penamaan geografis/geologis dan tidak merujuk pada suku atau budaya tertentu.
"Kita juga sejak lama mengenal istilah geografis Sunda Besar dan Sunda Kecil. Istilah Sunda memiliki dasar yang lebih tua daripada batas administratif provinsi dan lebih mendalam daripada sekadar pembagian wilayah berdasarkan arah mata angin," ujar Ganjar kepada Malutpost.id, Rabu (8/7).
Mengutip dari laman resmi Unpad, dalam kegiatan ‘Keurseus Budaya Sunda Edisi I: Tatar Sunda tina Sawangan Geologi’ pada 26 Agustus 2021, Guru Besar Emeritus Geologi ITB Prof. Dr. Koesoemadinata menjelaskan bahwa istilah Sunda dalam ilmu kebumian tidak ada hubungannya dengan nama etnis atau istilah politik.
Ia menyebutkan, ahli geografi Claudius Ptolemaeus, yang hidup pada abad kedua Masehi, adalah yang pertama kali mencatat keberadaan kepulauan bernama Sunda di sebelah timur India dalam laporan penjelajahannya sekitar tahun 150. Data ini kemudian menjadi bekal bagi bangsa Portugis ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Nusantara pada tahun 1500 Masehi.
Menurut Koesoemadinata, saat itu bangsa Portugis tiba di suatu wilayah kerajaan bernama Kerajaan Sunda. Oleh karena itu, diduga bangsa Portugis, yang masih asing dengan istilah Nusantara, menyimpulkan bahwa seluruh kepulauan yang mereka datangi adalah wilayah Sunda.
"Orang Portugis menyimpulkan bahwa Nusantara itu Sunda karena di bagian barat pulau-pulaunya besar disebut Soenda Mayor (Sunda Besar), sedangkan di bagian timur pulau-pulau kecil disebut Soenda Minor (Sunda Kecil)," tutur Koesoemadinata, dikutip dari artikel di laman resmi Unpad tersebut. Istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil, imbuhnya, masih digunakan dalam pustaka geologi-geografi hingga kini.
Dalam kegiatan yang sama, Koesoemadinata juga menjelaskan asal usul penyebutan Sunda dalam ilmu bumi merujuk pada pandangan ahli Geologi Reinout van Bemmelen pada tahun 1949. Menurut Bemmelen, istilah Sunda berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu ‘Cuddha’ yang berarti "putih".
"Konon menurut beliau, di zaman Pleistosen, di utara Bandung (saat ini) terbentuk gunung api raksasa yang dinamainya Gunung Sunda Purba," ujarnya. Gunung Sunda Purba itu mengalami erupsi dahsyat, menutupi wilayah sekitarnya dengan abu vulkanik berwarna putih. Wilayah sekitar Gunung Sunda Purba diyakini sudah berpenduduk, berdasarkan bukti artefak yang ditemukan. Oleh karena itu, jelas Koesoemadinata, daerah tersebut kemudian dikenal sebagai Negeri Putih (Cuddha) atau cikal bakal "Sunda Land". Penduduk yang mendiami wilayah tersebut kemudian dinamakan "Orang Sunda".
Pulau Jawa dan Jejak Sejarahnya
Di sisi lain, pulau yang kini menjadi jantung kebudayaan Sunda dikenal dengan nama Pulau Jawa, atau di masa lalu dikenal dengan sebutan Jawa Dwipa (Yavadvipa). Dalam buku The History of Java (1817), TS Raffles menulis bahwa nama Yavadvipa telah disebut dalam berbagai kisah klasik India, termasuk Ramayana. Dalam bahasa Sanskerta, Yavadvipa berarti ‘Pulau Padi’ atau ‘Pulau Jewawut/biji-bijian bahan pangan’.
Selain itu, mengutip dari berbagai literatur sejarah, kata ‘Jawadwipa’ juga ditemukan pada beberapa sumber primer sejarah berupa prasasti di Tanah Jawa. Salah satunya adalah Prasasti Canggal, prasasti tertua peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang bertanggal 654 śaka (6 Oktober 732 M), serta Prasasti Baru 956 śaka di masa Raja Airlangga. Nama ini juga muncul pada Prasasti era Majapahit yang menceritakan asal usul Mahapatih Gajah Mada (Prasasti Singhasari/Prasasti Gajahmada 1273 Saka).
Dengan demikian, wacana perubahan nama ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan upaya mendalam untuk merefleksikan identitas yang telah lama berakar, jauh sebelum batas-batas provinsi modern terbentuk.


































