Gejayan Membara 10 Tuntutan Rakyat Menggema

Malutpost.id, Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di Simpang Tiga Gejayan, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY,

Vian Eka

[addtoany]

Gejayan Membara 10 Tuntutan Rakyat Menggema

Malutpost.id, Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di Simpang Tiga Gejayan, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY, pada Sabtu (14/6) sore. Aksi ini dimulai sekitar pukul 15.30 WIB, tak lama setelah hujan mereda, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat dan kondisi ekonomi yang kian membebani masyarakat.

Para demonstran memadati lokasi dengan membawa berbagai spanduk dan poster yang menyuarakan kritik tajam. Beberapa di antaranya berbunyi, "Jika Rupiah Melemah, Kita Kuatkan Perlawanan ke Pemerintah" dan "The Workers and Farmers of this Country are Smarter than The Government."

Gejayan Membara 10 Tuntutan Rakyat Menggema
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Orasi-orasi berapi-api silih berganti disampaikan oleh perwakilan berbagai elemen masyarakat dari atas mobil komando. "Selamat datang di negeri ngompol, pejabat kayak maling, rupiah makin ambrol," teriak seorang orator, disambut riuh massa. Guru Besar Ilmu Media dan Jurnalisme dari Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki, turut hadir dan menyerukan, "Kami meminta pada kesempatan ini Presiden Prabowo dan Wakil Presiden masih waras dan pro rakyat untuk meninjau ulang seluruh program yang dipermasalahkan."

Secara keseluruhan, Aliansi Rakyat Memanggil menyuarakan sepuluh poin tuntutan utama. Tuntutan tersebut meliputi penghentian kebijakan kontroversial seperti Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Mereka juga mendesak pencabutan revisi undang-undang krusial, yakni UU TNI, UU Polri, UU Kejaksaan, dan UU Peradilan Militer.

Selain itu, massa menuntut perlindungan kebebasan sipil, pengakhiran impunitas aparat, pembebasan tahanan politik, serta penghentian kriminalisasi terhadap warga yang kritis. Dalam aspek kesejahteraan, mereka menyerukan pemenuhan hak dasar seperti pendidikan dan layanan kesehatan gratis, peningkatan ekonomi, perlindungan hak pekerja, perbaikan regulasi transportasi online, serta jaminan hak atas tanah dan ruang hidup yang layak. Terakhir, demonstran mendesak penghentian penggusuran paksa dan pengusutan tuntas kasus korupsi Stadion Mandala Krida di Yogyakarta.

Selama aksi, akses menuju pertigaan ditutup total. Meskipun sempat berlangsung kondusif hingga pukul 17.30 WIB, situasi kemudian memanas. Sebagian peserta memilih bertahan dan, dalam tindakan eskalasi, membakar ban serta water barrier di sisi utara pertigaan. Api masih berkobar saat jalur lalu lintas dari arah utara dibuka. Tak lama kemudian, terdengar dua kali suara letusan, salah satunya diduga berasal dari kaleng cat semprot yang ikut terbakar.

Menjelang pukul 18.28 WIB, akses lalu lintas di Pertigaan Gejayan akhirnya dibuka kembali sepenuhnya. Namun, beberapa peserta yang masih bertahan di lokasi meminta pengendara yang melintas untuk membunyikan klakson sebagai bentuk solidaritas dan ekspresi "muak" terhadap pemerintah. Suara klakson kendaraan yang saling bersahutan pun riuh menyambut seruan tersebut, menandai berakhirnya aksi yang penuh dinamika ini.

Ikuti kami :

Tags

Related Post

Ads - Before Footer